Menperin Sarmuji Dorong Daya Saing Industri Kakao Nasional

Industri Kakao Nasional

Makassar, PR Politik – Menteri Perindustrian (Menperin Muhammad Sarmuji) memacu percepatan efisiensi dan daya saing industri kakao nasional lewat kolaborasi lintas sektor serta penguatan sumber daya manusia melalui Program Cocoa Doctor.

Langkah strategis tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) dan prosesi kelulusan peserta Program Cocoa Doctor di Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (19/10). Program yang bermitra dengan UNDP, UK FCDO, dan PT Mars Symbioscience Indonesia ini ditujukan untuk mencetak agen perubahan dari sektor hulu hingga hilir perkehoanan.

Ia menegaskan bahwa penanganan kendala pasokan serta mutu bahan baku membutuhkan kerja bersama antar-lembaga secara terintegrasi.

“Penguatan industri kakao tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan kolaborasi lintas sektor untuk menjawab berbagai tantangan, mulai dari peningkatan produktivitas dan kualitas bahan baku, penguatan kapasitas sumber daya manusia, penerapan prinsip keberlanjutan, hingga peningkatan daya saing industri pengolahan dan produk kakao nasional,” ujarnya.

Ia berharap sinergi ini melahirkan eksekusi konkret yang berdampak langsung pada kesejahteraan para petani kakao di daerah.

“Kolaborasi ini diharapkan tidak berhenti pada forum diskusi, tetapi dapat diterjemahkan menjadi program dan aksi bersama yang memberikan dampak nyata bagi petani, pelaku usaha, dan industri kakao nasional,” tegasnya.

Dalam agenda tersebut, sebanyak 20 peserta dari berbagai provinsi sentra kakao seperti NTB, Sulbar, Papua Barat, Sulteng, dan Jabar dinyatakan lulus, di mana 75 persen di antaranya merupakan kaum perempuan.

Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, menambahkan bahwa ketersediaan SDM yang terampil di bidang budidaya, fermentasi, dan pascapanen menjadi kunci vital perbaikan industri kakao nasional.

“Kementerian Perindustrian memandang pengembangan SDM sebagai salah satu fondasi penting dalam membangun industri kakao yang berdaya saing. SDM yang memiliki kompetensi di bidang budidaya, pascapanen, fermentasi, pengolahan, maupun aspek keberlanjutan akan memperkuat keterhubungan antara kebutuhan industri dengan kondisi di tingkat hulu,” ungkapnya.

Baca Juga:  Aset Hutan Capai 120 Juta Hektare, Kemenhut Luncurkan PMM SPIP 2026 demi Tangkal Risiko Fraud

Dengan target melatih 100 peserta sepanjang tahun 2026, arahan Menperin Muhammad Sarmuji optimis mampu meningkatkan standar mutu, ketertelusuran bahan baku, serta daya ekspor kakao Indonesia di pasar global.

sumber : Kemenperin