Jakarta, PR Politik – Dalam debat televisi, perhatian publik sering tertuju pada siapa yang paling cepat menjawab, paling tajam menyerang, atau terlihat unggul dari lawan bicara. Namun, bagi Aryo Seno Bagaskoro, memenangkan perdebatan bukan tujuan utama ketika seorang komunikator politik tampil di layar.
Seno mengatakan, perhatian justru perlu diarahkan kepada orang yang berada di balik layar: penonton yang menerima pesan melalui televisi, YouTube, maupun potongan video yang beredar setelah acara.
“Yang nonton kita itu yang di belakang layar, yang nonton di TV, yang nonton di YouTube pada saat klip-klipnya disebarluaskan,” kata Seno dalam PR Politik Insight: Wawancara & Diskusi Santai, Rabu (30/9).
Karena itu, ia mengatakan tidak menjadikan kemenangan dalam debat sebagai ukuran utama. Bahkan, Seno mengaku tidak selalu memotong pembicaraan lawan ketika berada dalam forum televisi.
“Saya enggak peduli saya menang atau kalah debat di situ. Tapi yang penting saya kemudian bisa dipersepsikan positif oleh yang menonton, oleh audience,” ujarnya.
Pandangan tersebut kemudian membawa diskusi pada persoalan yang lebih besar: bagaimana sebenarnya mengukur keberhasilan komunikasi politik?
Menurut Seno, tidak ada satu indikator yang dapat digunakan untuk menjelaskan keberhasilan komunikasi politik secara utuh. Tingginya engagement, jumlah penonton, maupun sentimen di media sosial tidak otomatis menunjukkan perubahan persepsi publik.
Ia mengatakan pilihan dan pandangan politik seseorang dapat dipengaruhi banyak faktor, mulai dari program, pengalaman pribadi, pengalaman terhadap pemimpin di daerah, hingga informasi lain yang diterima.
“Orang bisa berubah pikiran soal satu tokoh, satu partai itu tidak hanya serta-merta karena jubirnya luar biasa,” kata Seno.
Dalam konteks tersebut, Seno melihat komunikasi politik sebagai pertarungan mengenai bagaimana sebuah isu dimaknai.
“Komunikasi itu adalah soal mem-framing makna. Politik itu pertarungan makna,” ujarnya.
Dengan demikian, keberhasilan komunikasi tidak berhenti pada seberapa ramai sebuah pesan diperbincangkan. Yang menjadi persoalan berikutnya adalah bagaimana pesan tersebut diterima, dipahami, dan ditempatkan oleh audiens dalam konteks yang lebih luas.
Bagi PR Politik, pertanyaan pentingnya bukan hanya “berapa banyak yang melihat?”, tetapi juga “apa yang mereka tangkap setelah melihatnya?”















