Surabaya, PR Politik – Ketua Umum DPP Perempuan Bangsa, Nihayatul Wafiroh, mendesak dilakukannya evaluasi perlindungan anak inklusif secara menyeluruh pasca timbulnya insiden dugaan perundungan terhadap seorang anak berkebutuhan khusus di Rungkut, Surabaya, yang berujung tragis.
Ia menilai peristiwa yang diduga melibatkan pelaku di bawah usia 12 tahun tersebut merupakan sinyal bahaya bagi institusi keluarga, sekolah, serta pemerintah.
“Saya sangat prihatin dan berduka atas peristiwa ini. Tidak seharusnya ada anak yang kehilangan nyawa dalam situasi yang diduga berkaitan dengan perundungan. Apalagi, anak berkebutuhan khusus membutuhkan perhatian, perlindungan, dan penerimaan dari lingkungan sekitarnya,” ujarnya di Jakarta, Senin (19/10).
Ia menegaskan pentingnya pembacaan masalah dari akar pengasuhan dan pola edukasi karakter ketimbang sekadar menganggapnya sebagai kenakalan biasa.
“Ketika anak-anak seusia itu diduga terlibat dalam tindakan yang berakibat sangat serius, kita harus bertanya, di mana peran orang tua, bagaimana pengawasan di sekolah, dan nilai-nilai apa yang mereka pelajari dari lingkungan sehari-hari? Ini bukan untuk saling menyalahkan, melainkan agar kita berani melakukan evaluasi bersama,” tegasnya.
Selain mendorong pengusutan transparan oleh pihak kepolisian, Nihayatul Wafiroh juga meminta peningkatan standar mutu Sekolah Luar Biasa (SLB) dan tenaga pendidik inklusif.
“Jangan sampai anak pintar secara akademik, tetapi tidak memiliki empati dan rasa hormat kepada sesama. Anak harus diajarkan bahwa mengejek, merendahkan, mengucilkan, apalagi menyakiti orang lain bukanlah sesuatu yang bisa dianggap biasa,” kataya.
“Penguatan SLB tidak boleh hanya berbicara soal gedung dan fasilitas. Kita juga harus memastikan ketersediaan guru yang kompeten, pendamping yang memadai, serta kurikulum yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan anak,” tambahnya.
Ia menutup imbauannya dengan mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat kesadaran empati untuk menciptakan lingkungan yang ramah disabilitas.
“Melindungi anak bukan hanya tugas orang tua atau sekolah, melainkan tanggung jawab kita bersama. Jangan menunggu ada korban berikutnya untuk bergerak. Kita harus memastikan setiap anak merasa aman, diterima, dan dihargai. Mengajarkan adab, memperkuat pendidikan khusus, serta membangun lingkungan yang inklusif adalah bagian penting dari upaya menyelamatkan masa depan anak-anak kita,” pungkasnya menekankan pentingnya evaluasi perlindungan anak inklusif.
sumber : PKB















