Jakarta, PR Politik – Eskalasi ketegangan geopolitik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas ekonomi dunia. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) kini bersiaga penuh mengantisipasi dampak tidak langsung konflik tersebut terhadap rantai pasok dan daya saing industri manufaktur nasional.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengungkapkan bahwa wilayah Timur Tengah merupakan jantung energi dan jalur logistik global yang sangat vital. Gangguan di kawasan ini, khususnya pada Selat Hormuz, berpotensi besar memicu lonjakan harga minyak mentah dan biaya pengiriman internasional.
“Kami terus memonitor perkembangan konflik di Timur Tengah karena kawasan tersebut merupakan salah satu pusat energi dunia dan jalur logistik global yang sangat penting. Setiap eskalasi konflik tentu berpotensi memengaruhi harga energi, kelancaran rantai pasok bahan baku industri, serta biaya logistik yang digunakan oleh sektor manufaktur,” ujarnya dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (5/3).
Kenaikan harga energi global menjadi ancaman langsung bagi sektor-sektor industri padat energi seperti petrokimia, logam dasar, semen, dan pupuk. Selain itu, industri yang bergantung pada bahan baku impor, seperti tekstil serta makanan dan minuman, juga berisiko menghadapi pembengkakan biaya akibat perubahan jalur logistik dan fluktuasi harga komoditas global.
“Jika harga energi global meningkat dalam jangka waktu yang panjang, maka biaya produksi industri manufaktur juga berpotensi naik. Hal ini tentu dapat memengaruhi efisiensi produksi serta daya saing produk industri di pasar domestik maupun ekspor,” jelasnya.
Menghadapi ketidakpastian ini, pemerintah telah menyiapkan langkah mitigasi strategis yang selaras dengan program prioritas Presiden Prabowo Subianto, yakni swasembada pangan dan energi. Menperin menegaskan bahwa kemandirian ekonomi adalah kunci agar industri nasional tidak terlalu bergantung pada pasokan global yang rentan gejolak.
Beberapa strategi yang dijalankan antara lain:
-
Penguatan Industri Hulu: Mengurangi ketergantungan impor dengan meningkatkan penggunaan bahan baku dalam negeri (P3DN).
-
Diversifikasi Ekspor: Memperluas jangkauan pasar ke negara-negara yang lebih stabil.
-
Transformasi Industri Hijau: Mempercepat efisiensi energi untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang harganya fluktuatif.
“Program ketahanan pangan dan ketahanan energi yang menjadi prioritas Presiden Prabowo merupakan langkah strategis untuk memperkuat kemandirian ekonomi nasional. Industri manufaktur memiliki peran penting dalam mendukung upaya tersebut, mulai dari penyediaan sarana produksi pertanian, industri pupuk, alat dan mesin pertanian, hingga pengembangan teknologi energi,” tambahnya.
Meski tantangan berat menghadang, Menperin optimistis manufaktur Indonesia memiliki daya tahan kuat. Hal ini didukung oleh struktur industri yang kian terdiversifikasi dan koordinasi intensif antara pemerintah, asosiasi, serta pelaku usaha.
“Kami optimistis bahwa dengan penguatan struktur industri nasional serta dukungan terhadap program ketahanan pangan dan energi, sektor industri manufaktur Indonesia akan tetap mampu tumbuh dan berdaya saing meskipun menghadapi berbagai tantangan global,” pungkasnya.
sumber : Kemenperin RI















