Jakarta, PR Politik – Menperin Sarmuji menegaskan komitmen Kementerian Perindustrian untuk terus memacu kinerja sektor manufaktur domestik, termasuk memperkuat daya saing industri kaca lembaran nasional sebagai salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi di zona ekspansi.
Pada Triwulan II 2026, Industri Pengolahan Non-Migas (IPNM) berhasil tumbuh 5,32% (YoY) dan melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. Subsektor barang galian bukan logam, yang mencakup industri kaca lembaran, turut memberikan kontribusi positif dengan pertumbuhan mencapai 8,8%.
“Capaian tersebut menunjukkan ketahanan dan daya saing sektor industri pengolahan yang terus terjaga di tengah dinamika ekonomi global. Kinerja ini salah satunya didukung oleh subsektor industri barang galian bukan logam, termasuk industri kaca, yang mencatat pertumbuhan sebesar 8,8%,” ujarnya dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (17/10).
Saat meninjau lokasi pabrik PT Xinyi Glass Indonesia di Kawasan Industri JIIPE KEK Gresik, Jawa Timur, Menperin Sarmuji menguraikan bahwa ketersediaan bahan baku lokal seperti pasir silika, dolomit, dan limestone menjadi modal kuat pengembangan sektor ini.
Kapasitas terpasang industri kaca lembaran nasional yang tercatat sebesar 2,92 juta ton per tahun pada 2025 menunjukkan peningkatan signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kehadiran investasi baru tersebut menyumbang hingga 27,5% terhadap total kapasitas terpasang nasional, sekaligus memperkuat substitusi impor sebagaimana dipublikasikan pada situs resmi https://kemenperin.go.id/.
“Industri kaca lembaran nasional memiliki keterkaitan erat dengan perkembangan sektor konstruksi, properti, dan otomotif. Peningkatan pembangunan infrastruktur, perumahan nasional, serta produksi kendaraan bermotor berpotensi besar meningkatkan permintaan kaca lembaran di dalam negeri,” jelasnya.
Guna menjaga efisiensi biaya serta kualitas produk, pemerintah mengimplementasikan skema Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) sebesar USD 7 per MMBTU, pemberlakuan SNI Wajib, serta Standar Industri Hijau. Menperin Sarmuji juga mencatat rata-rata nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pada sektor ini telah mencapai 73,69%.
“Di tengah persaingan global, industri kaca lembaran nasional perlu memperkuat inovasi melalui pengembangan teknologi produksi dan diversifikasi produk, seperti kaca low-emissivity (Low-E), kaca berlapis, dan kaca berinsulasi untuk mendukung bangunan hemat energi. Kemenperin berharap industri kaca lembaran nasional terus berkembang menjadi industri yang modern, efisien, berkualitas, ramah lingkungan, dan berdaya saing global,” pungkasnya mengenai prospek industri kaca lembaran.
sumber : Kemenperin















