Jakarta, PR Politik – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan optimisme tinggi terhadap kemampuan pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) dalam negeri untuk merambah pasar perlengkapan haji dan umrah. Guna merealisasikannya, Kemenperin terus memperkuat sinergi lintas sektoral untuk mengintegrasikan IKM ke dalam rantai pasok kebutuhan jemaah.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menekankan bahwa IKM Indonesia memiliki daya saing yang mumpuni untuk menyediakan berbagai kebutuhan, mulai dari perlengkapan ibadah hingga konsumsi.
“Kami meyakini pelaku IKM dalam negeri memiliki kapasitas dan daya saing untuk memenuhi kebutuhan barang haji dan umrah, mulai dari perlengkapan ibadah, makanan, dan minuman. Kemenperin juga menjalin sinergi dengan Kementerian Haji, fesyen, perusahaan travel, serta bank penerima setoran haji dan umrah sebagai langkah awal dalam memperluas akses pasar bagi IKM,” ungkap Agus Gumiwang dalam keterangannya, Kamis (18/12).
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA), Reni Yanita, menambahkan bahwa Indonesia merupakan kontributor jemaah haji terbesar di dunia, yakni mencapai sekitar 10% hingga 11,5% dari total jemaah global. Potensi ini merupakan peluang ekonomi yang sangat signifikan bagi industri nasional.
“Indonesia tercatat sebagai kontributor terbesar ibadah haji di dunia yaitu sekitar 10 persen, serta menjadi penyumbang jemaah umrah yang signifikan dengan antusiasme yang terus meningkat,” jelas Reni saat membuka Business Matching di Jakarta.
Kemenperin telah melibatkan lebih dari 45 pelaku IKM dari berbagai subsektor untuk dipertemukan dengan ekosistem haji dan umrah. Kategori produk yang menjadi fokus utama meliputi:
| Subsektor IKM | Jenis Produk Utama |
| Pangan Halal | Makanan dan minuman kemasan untuk jemaah. |
| Tekstil (TPT) | Kain ihram, mukena, batik, dan busana muslim (modest fashion). |
| Barang Gunaan | Koper, tas perjalanan, dan alas kaki. |
| Kimia & Kosmetik | Obat-obatan, kosmetik halal, dan produk perawatan diri (personal care). |
Reni mengungkapkan, subsektor industri pangan menyumbang 37,87% dari nilai tambah Industri Pengolahan Non-Migas (IPNM). Sementara itu, industri kosmetik nasional juga menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan jumlah pelaku usaha sebesar 16% pada tahun 2025, di mana 87% di antaranya merupakan pelaku IKM.
Berdasarkan data Sistem Komputerisasi Pengelolaan Terpadu Umrah dan Haji Khusus, jumlah jemaah umrah Indonesia terus meningkat dari 1,3 juta pada 2023 menjadi 1,4 juta jemaah pada 2024. Lonjakan ini menciptakan kebutuhan dasar yang mendesak akan produk-produk berkualitas.
“Jumlah jemaah haji Indonesia pada tahun 2024 memberikan kontribusi sebanyak 11,5 persen dari 1,8 juta jemaah haji dunia (The General Authority for Statistics – GASTAT, 2024), yang merupakan kontribusi terbesar di dunia,” tutur Reni.
Reni optimistis bahwa dengan bimbingan yang tepat, produk IKM tidak hanya mendukung kenyamanan ibadah jemaah, tetapi juga memperkuat struktur ekonomi nasional melalui kemitraan berkelanjutan dengan ritel, agregator, dan biro perjalanan.
“Ini artinya, industri dalam negeri sebetulnya memiliki kemampuan untuk dibimbing masuk ke dalam ekosistem haji dan umrah, hingga dapat menyediakan produk yang sesuai dengan kebutuhan jemaah, dan mendukung kenyamanan dan kelancaran perjalanan ibadah tersebut,” pungkasnya.
sumber : Kemenperin RI















