Akses Fasilitas Jantung Cath Lab BPJS Terbatas, Irma Suryani Desak Penguatan Skema Preventif Rumah Sakit

Surakarta, PR Politik – Ketersediaan fasilitas layanan Catheterization Laboratory (Cath Lab) di berbagai rumah sakit yang bermitra dengan BPJS Kesehatan dinilai masih sangat terbatas. Padahal, eksistensi instrumen medis modern tersebut memegang peranan vital dalam memperkuat benteng pencegahan (preventif) serta penanganan dini kasus penyakit jantung di tanah air.

Hal mendasar tersebut disuarakan oleh Anggota Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR RI yang juga legislator Komisi IX, Irma Suryani, di sela-sela agenda Kunjungan Kerja (Kunker) BURT ke RS PKU Muhammadiyah Surakarta, Jawa Tengah, Rabu (1/7).

“Padahal Cath Lab merupakan salah satu alat yang juga dapat menjadi bagian dari upaya promotif dan preventif dalam menangani penyakit jantung,” ungkapnya membuka keterangannya.

Srikandi Partai NasDem dari Daerah Pemilihan (Dapil) Sumatra Selatan II ini membeberkan bahwa dirinya kerap menerima keluhan serta serapan aspirasi dari jajaran manajemen rumah sakit di berbagai daerah. Kendala utama yang dihadapi di lapangan umumnya berkutat pada rumitnya birokrasi dalam menjalin ikatan kerja sama dengan pihak BPJS Kesehatan khusus untuk kluster penyediaan intervensi layanan Cath Lab.

Menurutnya, sumbatan pembiayaan dan regulasi ini harus segera diurai oleh pemangku kebijakan agar hak akses masyarakat luas terhadap penanganan medis jantung tidak diskriminatif dan makin merata.

“Nanti saya akan menyampaikan persoalan ini. Sudah banyak rumah sakit yang menyampaikan kepada saya bahwa mereka belum dapat bekerja sama dengan BPJS,” cetus politisi NasDem tersebut berjanji akan mengawal isu ini di Senayan.

Lebih lanjut, ia memberikan catatan kritis bahwa arah kebijakan tata kelola kesehatan nasional idealnya tidak boleh melulu bertumpu pada aspek kuratif atau pengobatan di hilir. Cetak biru pelayanan medis yang sehat wajib mengedepankan tindakan preventif dan promotif melalui skema deteksi dini yang disokong oleh kecukupan fasilitas kedokteran yang mumpuni.

Baca Juga:  Misbakhun Tegaskan Pengawasan APBN 2024 Tetap Jalan di Masa Transisi Pemerintahan

Jika instrumen pencegahan tidak segera dipasok secara masif, negara diproyeksikan akan terus keteteran menghadapi ledakan pasien jantung di masa mendatang.

“Sementara saat ini pendekatan kuratif masih jauh lebih besar dibandingkan preventif. Jika upaya preventif tidak diperkuat, maka kebutuhan terhadap layanan kuratif akan terus meningkat,” tandasnya mengingatkan konsekuensi logisnya.

Menutup pemaparannya, ia mendesak BPJS Kesehatan dan asosiasi rumah sakit untuk memperluas jangkauan kerja sama Cath Lab sesegera mungkin. Integrasi ini dinilai menjadi kunci strategis untuk mendongkrak mutu pelayanan kesehatan nasional sekaligus meminimalkan angka kesakitan serta mortalitas akibat serangan jantung di Indonesia.

sumber : Fraksi Nasdem

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Infografis Terbaru