Jakarta, PR Politik – Pembina DPP Perempuan Bangsa, Rustini Muhaimin, menggelar program pelatihan menjahit bagi para santri di Pondok Pesantren Al Madrosatul Qur’an, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Rabu (1/7). Agenda strategis ini dilaksanakan sebagai bagian dari langkah nyata memperkuat kapabilitas santri melalui penguasaan keterampilan praktis yang dapat diaplikasikan di masa depan.
Pelatihan vokasional ini diarsiteki untuk memicu lahirnya semangat kemandirian serta jiwa kewirausahaan di lingkungan domestik pesantren. Di samping memperdalam khazanah ilmu agama dan menjaga hafalan Al-Qur’an, para santri didorong memiliki keahlian teknis operasional yang adaptif guna mematangkan kemandirian ekonomi serta menebar kemanfaatan bagi masyarakat luas.
Dalam arahannya, ia menegaskan bahwa ekosistem pendidikan pesantren modern harus adaptif dalam mencetak generasi penerus yang tidak hanya matang secara spiritual, melainkan tangguh dan siap membentur tantangan zaman.
“Santri tidak cukup hanya belajar ilmu agama dan menghafal Al-Qur`an. Namun, mereka juga harus memiliki keterampilan yang spesifik agar memiliki bekal untuk membangun masa depan yang lebih baik. Dengan skill, santri akan lebih percaya diri, lebih mandiri, bahkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi dirinya maupun orang lain,” urainya di hadapan para peserta pelatihan.
Menurutnya, pemilihan kelas menjahit didasarkan pada besarnya peluang perputaran ekonomi di sektor sandang, yang sangat potensial untuk ditransformasikan menjadi unit usaha produktif berbasis kerakyatan jika dikelola secara tekun.
“Kami ingin pesantren menjadi tempat lahirnya generasi yang berakhlak mulia, cerdas, sekaligus produktif. Kemandirian ekonomi harus dibangun sejak dini agar para santri mampu berkontribusi bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa ketika mereka kembali ke tengah masyarakat,” imbuhnya.
Melalui inisiasi program pemberdayaan ini, Rustini berharap ke depan akan lahir lebih banyak intervensi program serupa yang menjangkau kluster-kluster pesantren di wilayah lain. Langkah ini dinilai krusial agar para santri memiliki keunggulan kompetitif yang relevan dengan dinamika industri modern, tanpa harus mencopot nilai-nilai keislaman fundamental yang menjadi identitas utama mereka.
Rangkaian pelatihan ini dilaporkan mendapat sambutan hangat dan antusiasme tinggi dari para santri. Sepanjang kegiatan, peserta tidak hanya dicekoki dengan pengenalan teori dan teknik dasar menjahit kain, melainkan juga disuntik motivasi kewirausahaan guna memacu pengembangan bakat terpendam sebagai bekal menapaki kehidupan setelah lulus dari pesantren.
sumber : PKB















