Kemen PPPA dan Save the Children Latih 270 Anak Hadapi Dampak AI terhadap Kesehatan Mental

Jakarta, PR Politik – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) bekerja sama dengan Save the Children Indonesia menyelenggarakan Webinar Literasi Digital: Artificial Intelligence (AI) dan Dampaknya bagi Kesehatan Mental. Kegiatan yang digelar secara virtual melalui Zoom Meeting pada Minggu (28/6) ini merupakan bagian dari rangkaian Lokakarya Forum Anak Nasional (FAN) 2026.

Sebanyak 270 peserta lintas wilayah turut berpartisipasi, meliputi Alat Kelengkapan FAN, Forum Anak Daerah dari berbagai provinsi, kelompok anak disabilitas, perwakilan SMP/SMA, serta para pendamping dari seluruh Indonesia. Agenda ini diarsiteki untuk menaikkan literasi digital anak sekaligus memperkuat pemahaman mengenai pemanfaatan kecerdasan artifisial secara bijak, aman, dan bertanggung jawab.

Plt. Deputi Bidang Pemenuhan Hak Anak Kemen PPPA, Rini Handayani, menegaskan dalam keynote speech-nya bahwa teknologi AI dapat menjadi sarana ampuh untuk memperkuat kreativitas dan inovasi jika digunakan secara tepat. Ia mengingatkan anak-anak untuk senantiasa menjaga etika di ruang digital, menyadari konsekuensi jejak digital, serta berani mencari bantuan ke orang dewasa tepercaya ketika menghadapi gangguan kesehatan mental.

“Kemen PPPA terus mendorong partisipasi bermakna anak sebagai Agen 2P pelopor dan pelapor (2P) dalam menciptakan lingkungan digital yang aman menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya saat membuka kegiatan secara resmi.

Webinar ini diawali dengan pembekalan materi mengenai Kebijakan Keselamatan Anak (Child Safeguarding Policy) oleh perwakilan Save the Children Indonesia. Sesi ini menguliti berbagai potensi risiko aktivitas daring, seperti perundungan siber (cyberbullying), eksploitasi seksual online, hingga pencurian identitas digital. Peserta dibekali panduan praktis terkait perlindungan data pribadi dan mekanisme pelaporan jika menghadapi situasi berbahaya.

Senior Director Advocacy Campaign and Government Relations Save the Children Indonesia, Tata Sudrajat, menekankan pentingnya menyeimbangkan laju teknologi dengan deteksi dini perubahan perilaku anak melalui dukungan keluarga dan sekolah. Anak diposisikan sebagai subjek yang memahami pengalaman digitalnya sendiri, sehingga keterlibatan mereka sangat krusial dalam perumusan strategi keamanan digital.

Baca Juga:  Listrik Sumatra Utara dan Barat Pulih 100%, Menara SUTT Bireuen Tuntas Dibangun Percepat Pemulihan Aceh

Dalam sesi Focus Group Discussion (FGD), narasumber dari Digital Youth Council (DYC) memaparkan hasil evaluasi perspektif anak terhadap AI. Di satu sisi, AI diakui memberi manfaat akomodatif sebagai ruang belajar dan tempat mengadu saat kesepian. Namun di sisi lain, penggunaan berlebihan berisiko memicu ketergantungan emosional yang tidak sehat serta degradasi berpikir kritis akibat pasokan informasi yang tidak terverifikasi.

Pada diskusi panel berikutnya, Direktur Eksekutif SafeNet Nenden Sekar Arum mengulas materi “Behind the Screen Kamu: AI dan Hak Kamu”, disusul oleh Pendiri Yayasan Sejiwa Diana Haryana yang membedah tema “Dampak Penggunaan AI yang Tidak Bijak pada Anak dan Orang Muda”. Forum ini secara taktis memperkenalkan pendekatan Look, Listen, and Link (3L) sebagai langkah awal bagi anak-anak untuk mengenali dan menolong rekan sebaya yang mengidap gangguan mental akibat gawai.

Sebagai program tindak lanjut berkelanjutan, Kemen PPPA meluncurkan platform e-learning Kompetensi Digital yang memuat 7 sesi utama interaktif, mencakup materi identitas digital, manajemen privasi, simulasi kasus phishing/scam, hingga manajemen stres. Melalui komitmen bersama berslogan “Cerdas Berdigital, Sehatkan Mental”, FAN yang bertindak sebagai jembatan resmi anak dan pemerintah optimistis mampu mengunci ekosistem digital nasional yang ramah anak.

sumber : Kemenpppa RI