Jadi Pembicara Tunggal Internasional di Kanada, Dubes Muhsin Syihab Promosikan Nilai Bhinneka Tunggal Ika

Ottawa, PR Politik – Duta Besar (Dubes) Republik Indonesia untuk Kanada merangkap Perwakilan Tetap RI pada International Civil Aviation Organization (ICAO), Muhsin Syihab, dipercaya menjadi satu-satunya pembicara internasional dalam diskusi panel tingkat tinggi bertajuk “Heritage in Motion: Honouring the Past, Shaping the Future”, Jumat (29/5). Dalam forum bergengsi tersebut, Dubes Muhsin mengangkat khazanah warisan kebudayaan Nusantara sebagai instrumen kekuatan diplomasi lunak (soft power diplomacy) Indonesia di tatanan global.

Paparan bernas itu disampaikan di hadapan sekitar 120 hadirin yang memadati ruang diskusi secara daring maupun luring di Kota Ottawa. Agenda strategis ini diorkestrasi langsung oleh Kementerian Luar Negeri Kanada (Global Affairs Canada/GAC) dalam rangka memperingati Bulan Warisan Budaya Asia (Asian Heritage Month).

Perhelatan internasional ini dibuka secara resmi oleh Champion for Racialized Employees GAC Nadia Ahmad selaku Direktur Jenderal Urusan Data dan Evaluasi, serta Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Kanada Arun Thangaraj. Selain menghadirkan Dubes Muhsin, diskusi panel yang dimoderatori oleh Direktur Jenderal Organisasi Internasional dan HAM Emi Furuya ini turut mengundang dua diplomat senior Kanada, yakni Dubes Kanada untuk Pakistan Tarik Khan dan mantan Konsul Jenderal Kanada di Shanghai Jennie Chen.

Dalam pidato kuncinya, Wamenlu Kanada Arun Thangaraj menegaskan pakta komitmen negaranya untuk menempatkan pluralitas budaya dan latar belakang seluruh warga sebagai modalitas utama yang memperkaya pembangunan nasional.

“Kepemimpinan di negara kita dapat muncul dari daerah dan pelosok mana pun di Kanada. Oleh karena itu, sebagai aparatur siwll negara, kita semua memiliki tanggung jawab untuk memberikan pelayanan publik yang relevan dan dekat terhadap seluruh warga Kanada, tanpa memandang latar belakang,” tegasnya membedah draf pelayanan inklusif di negaranya.

Baca Juga:  Antisipasi Kepadatan Mudik 2026, Menhub dan Menkes Perkuat Fasilitas Medis di Simpul Transportasi

Berdiri di podium utama, Dubes Muhsin Syihab secara agresif mempromosikan draf nilai luhur Bhinneka Tunggal Ika yang disebutnya telah mengakar kuat menjadi “DNA” serta identitas sosiologis bangsa Indonesia.

“Diplomat memiliki tanggung jawab untuk terus belajar dan menjembatani perbedaan kebudayaan, latar belakang, serta nilai-nilai berbagai bangsa,” ujarnya memetakan draf tanggung jawab moral para negosiator internasional.

Lebih detail, ia memaparkan tiga pilar budaya utama yang menuntun kepemimpinan diplomasinya selama ini, yaitu tradisi musyawarah dan mufakat, semangat gotong royong, serta pendekatan inklusivitas.

“Salah satu bukti tingginya nilai saling menghargai perbedaan di Indonesia adalah ketika Sumpah Pemuda 1928 menyepakati Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional walaupun bukan merupakan bahasa mayoritas. Keputusan tersebut menunjukkan pendekatan inklusif para pendiri bangsa Indonesia,” lanjutnya mengulas draf sejarah kebangsaan di hadapan komunitas internasional.

Kepada barisan generasi diplomat masa depan, Dubes Muhsin menitipkan pesan kuat agar bertindak sebagai pembangun jembatan komunikasi antarnegara melalui modal rasa ingin tahu yang gigih. Latar belakang kebudayaan lokal, tegasnya, tidak boleh diisolasi sebagai draf keterbatasan, melainkan harus dikonversi menjadi kekuatan narasi diri untuk memahami nilai-nilai universal bangsa lain.

Gayung bersambut, Dubes Kanada untuk Pakistan, Tarik Khan, menekankan pentingnya konsistensi antara komitmen siber dan tindakan nyata (walk the talk) dalam merawat keberagaman. Ia menilai konjungtur saat ini sebagai “momen Kanada–Asia” yang sangat taktis untuk mendongkrak kemitraan ekonomi, khususnya pada klaster diversifikasi perdagangan global dan investasi makro.

“Kanada telah memberikan ruang keterbukaan dan kepercayaan yang semakin luas terhadap warga negara yang berasal dari berbagai latar belakang dan kebudayaan,” ucapnya.

Sebagai informasi, sirkulasi diskusi panel “Heritage in Motion” ini bergulir manis di tengah momentum penguatan hubungan bilateral yang sangat mesra antara Jakarta dan Ottawa. Hubungan mesra tersebut ditandai dengan telah masuknya draf perjanjian dagang Indonesia–Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA) ke tahap akhir untuk segera diratifikasi oleh parlemen dan Pemerintah Kanada dalam waktu dekat.

Baca Juga:  Tim SAR Gabungan Temukan Serpihan Pesawat ATR 42-500 di Maros, Menhub Pastikan Pencarian Intensif

Di yurisdiksi domestik sendiri, draf proses ratifikasi diharapkan dapat rampung dalam tempo sesingkat-singkatnya. Langkah ini ditargetkan agar pakta kerja sama ekonomi komprehensif ICA-CEPA yang telah ditandatangani resmi sejak September 2025 di Ottawa tersebut dapat segera diimplementasikan secara total, demi menyuntikkan manfaat ekonomi riil yang masif bagi masyarakat kedua negara.

sumber : Kemlu RI

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Infografis Terbaru