Jakarta, PR Politik – Kementerian Pertanian (Kemenperin) memperkuat koordinasi bersama jejaring Champion Cabai Indonesia demi stabilkan harga cabai nasional melalui optimalisasi jalur distribusi dari daerah sentra produksi menuju wilayah yang mengalami defisit pasokan. Langkah strategis ini ditempuh seiring dengan estimasi produksi cabai rawit nasional yang mencapai 133,1 ribu ton pada Oktober 2026.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menginstruksikan jajarannya serta Badan Pangan Nasional (Bapanas) untuk memantau langsung gejolak harga di lapangan agar terjadi keseimbangan antara produsen dan konsumen.
“Ini harus ditindaklanjuti. Jangan sampai harga cabai, ayam di tingkat konsumen tinggi padahal tingkat produsen rendah,” ujarnya pada Senin (5/10/).
Direktur Jenderal Hortikultura, Muhammad Taufiq Ratule, menyampaikan bahwa Kemenkeu dan Bapanas terus menyalurkan logistik cabai dari area surplus seperti Surabaya dan Malang menuju Sulawesi Utara hingga Halmahera. Kolaborasi aktif dengan Champion Cabai Indonesia menjadi kunci penting untuk stabilkan harga cabai di pasaran.
”Kita sudah koordinasi Bapanas, Kemendagri juga, dan dinas di daerah. Kita punya champion yang memiliki logistik untuk daerah defisit. Kita mengirim ke daerah-daerah defisit, seperti dari Surabaya kita kirim ke Sulawesi Utara. Yang Halmahera sekarang proses dari Malang,” terangnya saat diwawancara pada Kamis (8/10).
Ketua Asosiasi Champion Cabai Indonesia (ACCI), Ardhi Wibowo, memastikan bahwa para petani di daerah sentra terus memproduksi dan siap mendukung langkah pemerintah untuk stabilkan harga cabai secara konsisten.
“Produksi cabai tetap berjalan. Petani dan Champion Cabai di berbagai daerah terus melakukan penanaman dan panen sesuai kondisi pertanaman masing-masing. Kami siap berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian untuk menjaga ketersediaan pasokan, terutama ketika ada wilayah yang membutuhkan tambahan pasokan,” ujarnya.
“Champion Cabai bukan hanya berbicara tentang produksi. Kami juga menjadi bagian dari jejaring petani yang saling berbagi informasi mengenai pertanaman, panen, dan kebutuhan pasar. Ketika produksi tersedia, komunikasi dan distribusi juga harus berjalan dengan baik agar pasokan dapat menjangkau wilayah yang membutuhkan,” katanya.
Sementara itu, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan, Sudi Mardianto, menegaskan bahwa pemantauan luas tanam dan potensi panen terus dilakukan demi menjaga keberlanjutan pasokan dan kepastian harga bagi petani maupun konsumen.
“Yang kita jaga bukan hanya ketersediaan cabai hari ini, tetapi juga kesinambungan produksinya. Karena itu, luas tanam, pertanaman yang sedang berjalan, dan potensi panen terus dipantau agar kita dapat mengetahui lebih awal kondisi pasokan pada periode berikutnya,” ungkapnya.
sumber : Kementan















