Jakarta, PR Politik – Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Veronica Tan, menyoroti krisis lingkungan, sosial, dan ekonomi global, serta dampaknya yang paling dirasakan oleh perempuan. Dalam acara The Big Idea Forum with Topic Restorative Economy: Small Scale, Big Difference di Studio CNN Indonesia, Selasa (12/8), Wamen PPPA menjelaskan bahwa model ekonomi linear yang saat ini diterapkan telah memperburuk triple planetary crisis yaitu krisis perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi lingkungan.
“Model industri ekstraktif yang terus meningkat memberikan dampak nyata terhadap kerusakan bumi, dan perempuan menjadi kelompok yang paling merasakan dampaknya. Akses ekonomi yang terbatas, beban ganda produktif dan reproduktif, serta minimnya keterlibatan dalam pengambilan keputusan menjadi tantangan serius bagi perempuan,” ujar Wamen PPPA.
Sebagai solusinya, Wamen PPPA menawarkan ekonomi restoratif sebagai paradigma baru yang adil dan berkelanjutan, di mana perempuan memiliki peran strategis.
“Perempuan memiliki peran strategis dalam ekonomi restoratif, mereka mengelola 80 persen kebutuhan rumah tangga dan memiliki pengaruh signifikan dalam keputusan konsumsi yang berdampak pada lingkungan dan ekonomi keluarga. Fakta ini menunjukkan bahwa ketika perempuan berdaya, dampaknya tidak hanya terasa bagi keluarga, tetapi juga terhadap komunitas dan lingkungan sekitar,” ungkap Wamen PPPA.
Meskipun demikian, ia mengakui adanya tantangan, termasuk rendahnya akses perempuan ke layanan keuangan formal, kesenjangan literasi digital, dan beban ganda yang masih mereka pikul.
“Tantangan terbesar lainnya adalah beban ganda yang masih harus dipikul perempuan. Mereka bertanggung jawab atas sektor domestik tiga kali lipat lebih besar dibanding laki-laki, sehingga waktu dan mobilitas mereka dalam mengembangkan usaha berkelanjutan menjadi sangat terbatas. Faktanya, masih banyak juga perempuan yang belum sadar bahwa mereka turut berperan dalam perekonomian keluarga bukan hanya sebagai ibu rumah tangga,” jelas Wamen PPPA.
Untuk mengatasi hal tersebut, Kementerian PPPA telah mengambil langkah-langkah konkret, termasuk pengembangan Rencana Aksi Nasional Gender dan Perubahan Iklim (RAN GPI), pelatihan kewirausahaan berkelanjutan, dan perluasan akses pembiayaan mikro. Wamen PPPA menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor.
“Kolaborasi lintas sektor sangat penting, Pemerintah dapat mendorong penganggaran iklim yang responsif gender dan insentif untuk bisnis perempuan. Sektor swasta didorong untuk menciptakan rantai pasok yang inklusif, dan lembaga keuangan diharapkan lebih aktif dalam investasi hijau berbasis gender. Dengan memberdayakan perempuan, kita memperkuat setengah populasi dunia untuk menjadi penggerak utama perubahan menuju masa depan yang inklusif dan berkelanjutan,” tutup Wamen PPPA.
sumber : Kemenpppa RI















