Peringati HUT Ke-81 RI di Monas, Zikir dan Doa Kebangsaan Lintas Agama Jadi Simbol Orkestra Kebinekaan

Jakarta, PR Politik – Agenda Zikir dan Doa Kebangsaan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia digelar secara khidmat di Monumen Nasional (Monas), Jakarta, pada Sabtu (1/8) malam. Momentum ini menjadi ruang spiritualitas bersama bagi para pemuka agama dan lintas elemen masyarakat untuk memanjatkan doa bagi keselamatan bangsa, sekaligus menegaskan bahwa keberagaman Indonesia merupakan kekuatan fundamental yang dirawat melalui semangat persatuan, toleransi, dan gotong royong.

Ketua Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Agung Jakarta, Romo Agustinus Heri Wibowo, Pr, memandang doa sebagai fondasi esensial dalam roda kehidupan berbangsa. Menurutnya, setiap ikhtiar lahiriah yang dilakukan segenap elemen bangsa wajib dilandasi oleh doa agar senantiasa mendapatkan penyertaan dari Tuhan Yang Maha Esa.

“Doa adalah fondasi dasar hidup kita sebagai bangsa yang religius. Semua daya upaya manusiawi kita, kerja sama di antara kita, dilandasi atas doa supaya Tuhan merestui, memberkati, dan menyempurnakan semua pekerjaan baik yang telah kita rencanakan, dan kita lakukan, dan akan kita laksanakan,” ujarnya.

Apresiasi senada juga datang dari Ketua Umum Pinandita Sanggraha Nusantara, Pinandita Gede Pastika. Ia menilai perhelatan doa kebangsaan lintas agama ini efektif menjadi jembatan untuk memperkokoh harmonisasi sosial di tengah kemajemukan bangsa.

“Kami mewakili masyarakat Hindu sangat apresiasi, sangat menyambut dengan baik. Ini adalah bagaimana mempersatu umat seluruh, masyarakat, lapisan masyarakat di Indonesia untuk menyatukan dengan kebinekaan ini menjadi satu, menjadi keharmonisan yang luar biasa,” tuturnya.

Pandangan serupa turut diutarakan oleh Wakil Sekretaris Jenderal Sangha Agung Indonesia, Bhikkhu Bhadranatha, Thera. Dirinya menilai doa lintas iman ini merupakan cerminan sejati dari wajah autentik Indonesia yang senantiasa piawai menjaga persatuan di tengah keanekaragaman etnis dan keyakinan.

Baca Juga:  Sambut 75 Tahun Hubungan Diplomatik, Parlemen Kanada Resmi Reaktivasi Grup Persahabatan dengan Indonesia

“Untuk bisa menjaga persatuan dan kesatuan yang perlu kita jaga adalah nilai-nilai cinta kasih di dalam diri kita dan terlebih juga nilai-nilai dari Pancasila kita yang juga cukup kuat bahwa kita memang sudah beragam tetapi dengan adanya cinta kasih yang terus dikembangkan akan membawa persatuan dan kesatuan dengan jauh lebih indah karena memang inilah Indonesia,” ucapnya.

Dari kalangan Konghucu, Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia, Xs. Budi S. Tanuwibowo, menilai doa bersama ini mengirimkan pesan kuat kepada dunia internasional bahwa Indonesia mampu mengelola perbedaan secara damai. Perbedaan dinilai bukan sebagai pemantik perseteruan, melainkan laksana sebuah simfoni.

“Bekerja samanya banyak agama dalam satu kebersamaan tentu menegaskan sila pertama. Tentu kemudian sila kemanusiaan bahwa di atas segala perbedaan, kemanusiaan kita satu. Kemudian jelas persatuan dan kemudian bisa saling berembuk, bisa bermufakat, dan mudah-mudahan ini dengan kebersamaan bisa membikin Indonesia adil, makmur, sejahtera,” paparnya.

Sementara itu, Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty, menggarisbawahi bahwa napas perjalanan sejarah Indonesia tidak pernah dapat dipisahkan dari kekuatan doa segenap umat beragama. Pihaknya menyambut hangat dan mendukung penuh agenda rohani menyambut HUT ke-81 RI ini.

“Saya kira itu nilai-nilai luhur yang telah ditaruh oleh para pendiri bangsa sejak awal mereka membangun bangsa ini. Tidak melihat apapun, latar belakang suku, agama tapi berdiri bersama-sama dan saya kira itu legacy yang sangat luar biasa yang harus kita pelihara dan kita jaga bagi keutuhan Indonesia ke depan,” ungkapnya.

“Saya kira memang sangat tepat kita melakukan doa dan syukur semua kebangsaan kita yang tetap minimum dipertahankan dengan kondisi yang kita capai selama ini, dan syukur-syukur nanti kita akan terus dan terus berkembang dan menjadi episentrum peradaban dunia masa depan adalah Indonesia,” urainya.

Baca Juga:  Bongkar Modus Baru Penyelundupan Kayu Riau-Batam, Gakkumhut Limpahkan Dua Tersangka ke Kejaksaan

Ia turut mengajak khalayak luas untuk terus merapatkan barisan kebersamaan dalam bingkai persatuan Bhinneka Tunggal Ika. Indonesia diibaratkannya sebagai sebuah lukisan maha indah yang wajib dirawat secara kolektif agar tetap tampil sebagai bangsa yang teduh, damai, dan mampu mengejawantahkan cita-cita luhur kemerdekaan.

sumber : Kemensetneg RI

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Opini