Aceh Utara, PR Politik – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) terus mengintensifkan penanganan sisa kayu akibat bencana hidrometeorologi di wilayah Sumatera. Memasuki hari ke-15, operasi pembersihan difokuskan di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, guna membuka akses yang terputus dan mendukung rehabilitasi infrastruktur publik.
Tim gabungan Kemenhut yang melibatkan unit pelaksana teknis seperti BBTNGL, BKSDA, BPDAS, hingga Balai Gakkum, mengerahkan kekuatan penuh dengan total 23 unit alat berat di lapangan. Armada tersebut terdiri dari ekskavator capit, ekskavator bucket, dan buldoser milik Kemenhut, TNI, serta Kementerian PU.
“Pembersihan difokuskan di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, yang masih mengalami hambatan akses akibat tumpukan kayu sisa banjir. Kayu yang masih dapat dimanfaatkan dikumpulkan di lokasi kejadian dan telah dilakukan pengukuran oleh tim BPHL, dengan hasil sebanyak 103 batang kayu atau setara 93,11 meter kubik,” papar Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, Subhan, Minggu (4/1).
Selain pembersihan jalan, Kemenhut turut memprioritaskan normalisasi fasilitas pendidikan. Sebanyak 50 personel dikerahkan untuk membersihkan ruang perpustakaan dan kamar mandi di SD Negeri 4 Langkahan, sementara alat berat membantu pengerukan parit di SMP Negeri 3 Langkahan.
Menariknya, kayu-kayu sisa bencana tersebut tidak dibuang begitu saja, melainkan diolah kembali untuk membantu warga terdampak. Bekerja sama dengan lembaga kemanusiaan Rumah Zakat, material kayu tersebut mulai dikonversi menjadi bahan bangunan hunian sementara (huntara).
“Estimasi pemanfaatan kayu sisa bencana oleh lembaga kemanusiaan Rumah Zakat bersama masyarakat pada hari ini mencapai sekitar ±3 meter kubik dengan menggunakan tujuh unit gergaji mesin. Sementara itu, akumulasi pemanfaatan kayu sejak 29 Desember 2025 hingga 3 Januari 2026 diperkirakan mencapai sekitar ±18,5 meter kubik,” tambah Subhan.
Upaya pemulihan juga berlangsung paralel di Sumatera Utara. Tim Manggala Agni dan BPKH terus membersihkan lorong permukiman di Aceh Tamiang, sementara di Sumatera Utara, ekskavator mulai menyiapkan lahan milik PTPN sebagai lokasi pembangunan hunian tetap (huntap).
Namun, tim di lapangan kini tengah mendalami temuan material kayu dalam jumlah masif di cabang Aek Rambe, Sungai Batang Toru. Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, Novita, menyatakan bahwa pihaknya sedang melakukan investigasi lebih lanjut.
“Saat ini, temuan tersebut masih dalam tahap pendalaman serta penanganan lebih lanjut oleh tim terkait sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” tegas Novita.
Diskusi lintas sektor antara Kemenhut, BNPB, dan lembaga swadaya masyarakat terus diperkuat untuk memastikan logistik kayu sisa bencana ini benar-benar efektif mendukung percepatan pemulihan wilayah terdampak, baik di Provinsi Aceh maupun Sumatera Utara.
sumber : Kemenhut RI















