Ekspor Kriya Tembus Rp2,97 Triliun, Kemenperin Sulap Limbah Sawit Jadi Kerajinan Anyaman di Kaltara

Tanjung Selor, PR Politik – Sektor industri kerajinan konsisten membuktikan perannya sebagai salah satu penopang strategis pertumbuhan ekonomi nasional dan penguatan kinerja ekspor manufaktur Indonesia. Berbekal kekayaan budaya, kreativitas, dan keterampilan para perajin, komoditas kriya domestik terus menunjukkan taji dan daya saing yang semakin diperhitungkan di pasar global.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, nilai ekspor industri kerajinan pada kuartal I tahun 2026 sukses menembus angka USD165,27 juta atau setara Rp2,97 triliun. Capaian impresif tersebut merekam pertumbuhan sebesar 4,08 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, sekaligus menjadi indikator tingginya apresiasi pasar internasional terhadap kualitas produk Indonesia.

“Industri kerajinan merupakan sektor yang memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan karena mampu menciptakan nilai tambah tinggi, memperluas kesempatan kerja, serta memperkuat ekonomi daerah. Pemerintah terus melakukan penguatan ekosistem industri kerajinan melalui peningkatan kapasitas SDM, pengembangan inovasi produk, dan perluasan akses pasar,” kata Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis (25/6).

Menperin menambahkan, arsitektur pengembangan industri kerajinan nasional saat ini juga diarahkan untuk mengoptimalkan penyerapan bahan baku dalam negeri sekaligus mendukung implementasi ekonomi sirkular. Langkah ini diharapkan mampu memperkokoh ketahanan rantai pasok industri sekaligus menciptakan peluang usaha baru yang berkelanjutan bagi masyarakat luas.

Sejalan dengan kebijakan tersebut, Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI), Emmy Suryandari, menegaskan bahwa eskalasi daya saing kriya nasional membutuhkan sinergi hibrida yang kokoh antara pemerintah, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan terkait.

“Pengembangan keterampilan, pemanfaatan bahan baku alternatif, serta penerapan prinsip ekonomi sirkular menjadi faktor penting dalam menciptakan produk kerajinan yang bernilai tambah tinggi dan berkelanjutan. Melalui berbagai program pendampingan dan peningkatan kapasitas, Kemenperin terus berupaya agar menghasilkan produk-produk kreatif yang mampu menjawab kebutuhan pasar sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ungkap.

Baca Juga:  Kementerian Perindustrian Dorong Kawasan Industri Perkuat Ekonomi Nasional dan Target Pertumbuhan 8%

Sebagai perwujudan konkret di lapangan, Balai Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri (BSPJI) Samarinda menjalin kolaborasi taktis dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menggelar Workshop Kerajinan Anyaman dan Kertas Seni Berbasis Kelapa Sawit di Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.

Agenda yang bergulir pada 22–26 Juni 2026 ini mendapatkan sokongan pendanaan penuh dari BPDP. Langkah ini merupakan bagian dari eksekusi program ekonomi hijau bertajuk “Peningkatan Nilai Ekonomi Produk Kerajinan melalui Optimalisasi Pemanfaatan Limbah dan Produk Samping Sawit di Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kerajinan Provinsi Kalimantan Utara”.

Pelatihan intensif ini diikuti oleh 30 pelaku usaha kerajinan yang berasal dari empat wilayah strategis, yakni Kabupaten Bulungan, Malinau, Nunukan, dan Tana Tidung. Sepanjang kegiatan, para peserta dibekali dengan formulasi teori serta praktik pembuatan kerajinan anyaman dan kertas seni (art paper) dengan mendayagunakan limbah serta produk samping kelapa sawit sebagai bahan baku utama fabrikasi.

Kepala BSPJI Samarinda, Ransi Pasae, menyampaikan bahwa hilirisasi kerajinan berbasis limbah kelapa sawit ini menjadi salah satu strategi jitu untuk mewujudkan konsep ekonomi sirkular pada wilayah lingkar perkebunan, sekaligus mendongkrak kesejahteraan masyarakat setempat.

“Pemanfaatan limbah dan produk samping kelapa sawit menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi merupakan langkah nyata dalam mendukung industri yang berkelanjutan. Selain mengurangi limbah, kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan produk-produk kreatif unggulan yang dapat memperkuat perekonomian daerah,” urainya.

Sinyal dukungan serupa ditiupkan oleh Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah BPDP, yang dalam sambutannya diwakili oleh Anwar Sadat selaku Analis Divisi Kerja Sama BPDP. Pihaknya menegaskan komitmen penuh institusi untuk terus menyokong program ekonomi hijau berbasis sawit melalui skema pemberdayaan UMKM perkebunan.

Baca Juga:  Kemenhub Buka Posko Pusat Lebaran 2026, Siapkan Strategi Mudik Gratis hingga Penurunan Harga Tiket Pesawat

Melalui kemitraan terpadu ini, industri kriya berbasis kelapa sawit di Kalimantan Utara diproyeksikan mampu berkembang menjadi salah satu sektor unggulan baru. Posisi geopolitik Kalimantan Utara yang berbatasan darat langsung dengan negara tetangga serta berada pada jalur perdagangan regional dinilai membuka peluang besar bagi penetrasi pasar produk kerajinan sawit, baik di tingkat nasional maupun internasional secara berkelanjutan.

sumber : Kemenperin RI

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Opini