Majalengka, PR Politik – Kementerian Kehutanan melalui Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri) Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM (BP2SDM), tengah tancap gas menyiapkan cetak biru pengembangan program Forest Move Club. Inovasi ini dirancang sebagai model pembinaan generasi muda yang berorientasi pada pelestarian hutan, kepemimpinan hijau (green leadership), serta penguatan keterampilan praktis di sektor kehutanan nasional.
Langkah taktis tersebut diambil sebagai tindak lanjut atas hasil monitoring dan evaluasi (monev) mendalam terhadap proyek percontohan (pilot project) Forest Move Club yang sukses dieksekusi di SMK Kehutanan Negeri Kadipaten, Majalengka, Jawa Barat. Hasil evaluasi objektif menunjukkan tingginya antusiasme peserta didik terhadap metode pembelajaran hibrida yang mengawinkan praktik lapangan, aksi nyata lingkungan, penguatan karakter, serta inkubasi keahlian vokasional.
Tercatat sebanyak 104 siswa anggota Forest Move Club mengikuti proses evaluasi ketat bersama jajaran guru pendamping, widyaiswara, perwakilan Perum Perhutani, dan tim pelaksana pusat dari Pusgenri. Sirkuit evaluasi ini digelar untuk mengukur secara presisi tingkat perkembangan pengetahuan, perubahan sikap, dan penguasaan keterampilan teknis peserta setelah satu tahun penuh mengarungi program tersebut.
Selama masa inkubasi program, para taruna muda mendapatkan transmisi pengalaman langsung melalui berbagai portofolio kegiatan krusial di lapangan. Aksi nyata tersebut meliputi proyek konservasi mata air, pembuatan sekat bakar hijau untuk mitigasi kebakaran, penyulingan minyak kayu putih, hingga pembuatan silase sebagai bank pakan ternak terintegrasi. Pengalaman ini dinilai andal mempertebal pemahaman peserta terhadap tata kelola sumber daya kehutanan, sekaligus menyuplai keterampilan riil yang selaras dengan serapan dunia kerja.
Kepala Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan yang diwakili Kepala Bidang Pembinaan Perilaku Generasi Peduli Cinta Alam, Ernawati Eko Hartono, memaparkan bahwa Forest Move Club diciptakan untuk memotong jarak birokrasi belajar yang kaku, sehingga anak muda bisa mencintai alam lewat interaksi fisik langsung.
“Forest Move Club menjadi ruang belajar bagi generasi muda untuk mengenal hutan secara lebih dekat melalui pengalaman langsung. Kami ingin menumbuhkan generasi yang tidak hanya peduli terhadap kelestarian hutan, tetapi juga mampu menjadi penggerak perubahan, memiliki jiwa kepemimpinan, serta siap berkontribusi dalam pembangunan kehutanan berkelanjutan,” urainya menjabarkan target kualitas SDM hijau tersebut.
Ia menambahkan, seluruh pasokan masukan dari peserta, tenaga pendidik, hingga korporasi mitra bertindak sebagai bahan baku utama dalam menyempurnakan kurikulum pembinaan.
“Hasil evaluasi ini menjadi bekal penting bagi kami untuk terus menyempurnakan program sehingga dapat memberikan manfaat yang lebih luas dan diterapkan di berbagai daerah,” tambahnya optimis.
“Program ini memberikan ruang bagi siswa untuk belajar di luar kelas melalui praktik langsung, kerja tim, kepemimpinan, serta pengembangan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Kami melihat adanya peningkatan kepercayaan diri, kepedulian lingkungan, dan motivasi belajar pada peserta,” ungkapnya.
Di sisi lain, Kepala Balai P2SDM Wilayah IV, Anis Susanti Aliati, menilai Forest Move Club mengantongi potensi ekonomi dan ekologi yang masif untuk dikembangkan sebagai percontohan nasional yang adaptif terhadap tantangan krisis iklim masa depan.
“Kolaborasi antara Pusgenri, sekolah, dunia usaha, dan para mitra menjadi kekuatan utama program ini. Hasil evaluasi yang diperoleh akan menjadi dasar untuk penyempurnaan program sekaligus membuka peluang pengembangan dan replikasi model Forest Move Club di wilayah lain,” jelasnya.
Meskipun menorehkan rapor hijau, hasil monev tetap mencatat sejumlah evaluasi taktis untuk perbaikan ke depan, di antaranya desakan penambahan durasi praktik lapangan serta penguatan sarana laboratorium siber dan fisik di sekolah. Temuan ini dipastikan menjadi bahan baku utama penyempurnaan kurikulum, metode pengajaran, hingga sistem pendampingan ketat di masa transisi.
Menutup laporannya, Kementerian Kehutanan menargetkan Forest Move Club dapat segera diadopsi secara luas melalui perluasan jejaring hibrida bersama perguruan tinggi, komunitas pemuda, pemerintah daerah, hingga pemangku kepentingan swasta. Langkah akselerasi yang bersih dari ego sektoral birokrasi kaku ini diproyeksikan menjadi peluru kendali utama untuk melahirkan pelopor muda yang akuntabel dan transparan demi mengamankan kelestarian hutan Indonesia secara berkelanjutan.
sumber : Kemenhut RI















