Partai Gelora Luncurkan Program Ngaji Politik Kikis Pragmatisme

Partai Gelora Luncurkan Program Ngaji Politik Kikis Pragmatisme

Jakarta, PR Politik – Partai Gelora Indonesia secara resmi meluncurkan program edukasi mingguan bertajuk Ngaji Politik yang disiarkan secara langsung melalui aplikasi Zoom Meeting serta kanal media sosial YouTube dan Instagram pada Rabu malam. Langkah strategis ini diambil sebagai ikhtiar partai dalam membangkitkan nilai spiritualitas umat Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sekaligus mengikis praktik politik transaksional yang kian marak.

Integrasi Nilai Agama dan Negara Lewat Serial Ngaji Politik

Dalam peluncuran perdananya, Ketua Bidang Syiar dan Dakwah DPP Partai Gelora Indonesia, K.H. Muhith Muhammad Ishaq, Lc., M.A., hadir memandu sesi berjuluk Setiap Manusia Adalah Anggota Sebuah Umat pada Rabu (23/9). Program Ngaji Politik sendiri terbagi menjadi dua rangkaian utama, yakni Serial Spiritualitas Politik bersama K.H. Muhith dan Serial Ijtihad-Ijtihad Politik yang diampu oleh Dr. Abdurrahim, Lc., M.A.

Menurutnya, pemisahan atau dikotomi antara nilai keagamaan dan partisipasi politik selama ini memicu pergeseran motivasi masyarakat dari panggilan moral-spiritual menjadi sekadar transaksi materialistis.

“Kita ingin menggerakkan umat dengan semangat integrasi yang kuat. Motivasi politik umat seharusnya berawal dari panggilan agama. Dengan begitu, partisipasi masyarakat tidak lagi semata-mata didorong oleh semangat transaksional atau sekadar prinsip materialistis,” ujarnya.

Falsafah Imam Al-Ghazali dan Konsep Keumatan Multidimensi

Mengutip pandangan ulama klasik Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin, ia menegaskan bahwa kekuasaan politik dan ajaran agama sejatinya merupakan dua hal yang saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan.

“Agama adalah fondasi, sementara kekuasaan atau negara adalah penjaganya. Sesuatu yang tidak memiliki fondasi akan runtuh, dan sesuatu yang tidak ada penjaganya akan hilang. Agama tidak dapat dijalankan dengan sempurna tanpa pengelolaan dunia yang baik dan kondusif,” terangnya.

Dimensi Konsep Umat Cakupan & Referensi Ajaran Islam
• Dimensi Kauniyah (Ekologi) Perlindungan alam & seluruh makhluk ciptaan Allah (QS. Al-An’am: 38)
• Dimensi Ijtima’iyah (Sosial) Komunitas masyarakat yang terikat tradisi dan ajaran bersama (QS. Az-Zukhruf: 22–23)
• Dimensi Diniyah (Agama) Identitas keesaan tauhid dan prinsip keberagamaan (QS. Al-Anbiya: 92)
• Dimensi Tarikhiyah (Sejarah) Akar peradaban manusia yang bersumber dari ketauhidan (QS. Yunus: 19)
• Dimensi Siyasiyah (Politik) Kekuatan riil dalam mengarahkan tatanan menuju kebaikan

Lima Pilar Keumatan dan Ketahanan Spiritual Bangsa

Ia menerangkan bahwa istilah ‘umat’ disebutkan lebih dari 50 kali dalam Al-Qur’an dan 380 kali dalam hadis. Maknanya mencakup aspek ekologis hingga kekuatan politik riil untuk mencegah kemungkaran. Ia menggarisbawahi bahwa ketahanan spiritual umat Islam terbukti kokoh bertahan melintasi berbagai krisis global sepanjang sejarah.

“Kita ingin menggerakkan umat dengan semangat integrasi yang kuat. Motivasi politik umat pada mulanya seharusnya adalah panggilan agama, bukan sekadar dorongan materi atau pragmatisme transaksional,” tegasnya.

Legitimasi Kekuasaan untuk Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Ia menegaskan bahwa penegakan tatanan hukum sosial serta pelaksanaan perintah amar ma’ruf nahi mungkar sebagaimana termaktub dalam Surat Ali ‘Imran ayat 104 tidak dapat berjalan optimal tanpa ditopang oleh kekuatan politik yang dipimpin figur qawi (kuat), ‘alim (berilmu), dan amin (terpercaya).

“Amar ma’ruf nahi mungkar itu dari atas ke bawah, maka membutuhkan power. Tanpa kekuatan politik riil dan hadirnya negara, pelaksanaan hukum dan pengayoman terhadap masyarakat tidak akan berjalan efektif,” lanjutnya.

“Agama dan kekuasaan adalah saudara kembar (al-mulku wad-dinu taw’aman). Harusnya saling bersinergi dan melindungi. Jika hari ini hubungan tersebut dirasa kurang ideal, menjadi tugas kita bersama melalui ikhtiar ngaji politik ini untuk menyehatkan kembali relasi antara agama dan negara,” pungkasnya.

sumber : Partai Gelora