Jakarta, PR Politik – Anggota Komisi VI DPR RI, Rivqy Abdul Halim, memberikan dukungan penuh atas rencana PT Kereta Api Indonesia (Persero) melalui anak usahanya, KAI Logistik, yang bakal mengoperasikan layanan kereta api khusus untuk pengangkutan ternak dan hasil komoditas pertanian rute Banyuwangi menuju Jakarta.
Ia menilai inisiatif tersebut sebagai terobosan strategis untuk mempererat konektivitas antara wilayah pusat produksi komoditas dengan daerah konsumsi utama. Langkah ini diyakini mampu menekan biaya logistik secara signifikan sekaligus membuka penetrasi pasar yang lebih luas bagi para petani dan peternak lokal.
Layanan moda rel ini dijadwalkan beroperasi pada akhir September 2026 dengan menunjuk Stasiun Argopuro dan Stasiun Kalisetail di Banyuwangi sebagai titik muat menuju Jakarta. Selain komoditas ternak sapi, rantai pasok ini disiapkan untuk mengangkut hasil tani seperti buah-buahan, sayuran, dan cabai.
“Saya mendukung. Ini bukan hanya soal memindahkan sapi dan hasil pertanian dari Banyuwangi ke Jakarta. Ini harus kita lihat sebagai upaya membangun sistem logistik pangan nasional yang lebih efisien, terintegrasi, dan berpihak kepada peternak serta petani,” ujarnya di Jakarta, Senin (14/9).
Meskipun mendukung penuh efisiensi moda berbasis rel, Ketua Umum DKP Panji Bangsa tersebut mewanti-wanti PT KAI dan pemerintah untuk tidak semata-mata mengejar keuntungan waktu dan biaya, melainkan wajib menerapkan asas kesejahteraan hewan (animal welfare) secara ketat.
“Jangan sampai paradigma kita hanya mengganti truk dengan kereta. Ternaknya memang sampai tujuan, tetapi kita tidak tahu bagaimana kondisinya selama perjalanan. Moda transportasi ternak harus memenuhi standar keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan hewan sejak dari kandang sampai tujuan,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa desain gerbong harus ramah biologis, memiliki sirkulasi udara optimal, lantai antiselip, serta sekat pengaman guna mencegah cedera fisik. Penanganan ini wajib merujuk pada Peraturan Menteri Pertanian Nomor 32 Tahun 2025 yang mengharuskan fasilitas pakan, air, sanitasi, dan pemeriksaan fitness to travel oleh dokter hewan.
“Kapasitas 280 ekor per rangkaian, misalnya, jangan dipandang sebagai target yang harus selalu dimaksimalkan. Yang utama adalah berapa kapasitas yang aman berdasarkan jenis, ukuran, kondisi dan kebutuhan ternak. Jangan sampai mengejar efisiensi justru meningkatkan kepadatan dan stres hewan,” pungkasnya.
sumber : Fraksi PKB















