Setwapres dan Kemenkes Gandeng Poltekkes Semarang Atasi Stunting

Setwapres dan Kemenkes Gandeng Poltekkes Semarang Atasi Stunting

Semarang, PR Politik – Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) melalui Sekretariat Wakil Presiden (Setwapres) terus menggalang sinergi lintas sektor demi mengawal keberlanjutan program prioritas nasional pencegahan serta percepatan penurunan stunting. Guna menegaskan peran strategis perguruan tinggi, delegasi Kemensetneg menggelar kunjungan kerja ke Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekkes Kemenkes) Semarang, Jawa Tengah, Selasa (22/9).

Kunjungan ini berfokus pada penguatan kontribusi institusi pendidikan tinggi vokasi kesehatan melalui integrasi Tridarma Perguruan Tinggi dengan program pendampingan lapangan, utamanya dalam mendukung intervensi spesifik di wilayah prioritas daerah. Sinergi ini ditujukan untuk mengawal intervensi berbasis data dan kebutuhan lokal agar disparitas capaian stunting di kabupaten/kota se-Jawa Tengah dapat tertangani secara efektif.

Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Peningkatan Kesejahteraan dan Pembangunan Sumber Daya Manusia Setwapres, Eddy Cahyono Sugiarto, menegaskan bahwa keterlibatan perguruan tinggi merupakan salah satu kunci dalam menjembatani kebijakan nasional dengan aksi nyata di tingkat tapak. Ia menekankan bahwa penanganan stunting adalah pilar penting dalam mewujudkan Asta Cita Kabinet Merah Putih untuk membangun SDM unggul menuju Indonesia Emas.

“Kegiatan ini menjadi salah satu ruang untuk memperkuat koordinasi, sekaligus melihat secara langsung implementasi program di lapangan untuk nantinya menjadi bahan evaluasi dan perbaikan. Harapannya, berbagai kebijakan yang ada dapat benar-benar diterapkan, serta mampu menjangkau dan bermanfaat bagi semua lapisan masyarakat. Perguruan tinggi memiliki modalitas riset, inovasi, dan sumber daya mahasiswa yang sangat strategis untuk mengawal intervensi sensitif maupun spesifik di daerah secara terukur dan berkelanjutan,” ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi, menekankan bahwa stunting harus dicegah sebelum terjadi, mengingat pembentukan otak anak berlangsung sangat pesat hingga 92 persen pada lima tahun pertama kehidupan.

Baca Juga:  Resmi Gabung BRICS, Indonesia Gandeng Rusia Garap Rantai Pasok Global di Forum PartNIR Xiamen

Ia memaparkan bahwa berdasarkan evaluasi capaian intervensi spesifik, intervensi pada sasaran ibu hamil dan balita bermasalah gizi masih memerlukan percepatan yang masif, khususnya dalam cakupan pemeriksaan antenatal (ANC minimal 6 kali), konsumsi TTD/MMS, serta pemberian makanan tambahan (PMT) lokal bagi ibu hamil KEK dan balita dengan kenaikan berat badan tidak adekuat (weight faltering). Untuk itu, Kemenkes memberikan dukungan penuh bagi perguruan tinggi agar terus berperan aktif sebagai mitra strategis pemerintah daerah dan puskesmas di lapangan.

“Stunting tidak terjadi secara tiba-tiba dan jauh lebih efektif dicegah sejak masa kehamilan serta usia bawah dua tahun. Kementerian Kesehatan memberikan dukungan penuh bagi perguruan tinggi seperti Poltekkes Semarang melalui pendanaan program, fasilitasi integrasi kurikulum praktik lapangan, hingga penyediaan platform data terpadu seperti SIGIZIKESGA. Kehadiran sivitas akademika dan mahasiswa sangat krusial untuk mendampingi nakes dan kader Posyandu, memastikan pemantauan pertumbuhan akurat, serta mempercepat rujukan dan intervensi gizi tepat waktu sebelum balita jatuh pada kondisi stunting,” tegasnya.

Direktur Poltekkes Kemenkes Semarang, Bedjo Santoso, memaparkan secara komprehensif implementasi Tridarma Perguruan Tinggi yang dijalankan institusinya dalam mendukung percepatan penurunan stunting di wilayah Jawa Tengah. Ia menegaskan bahwa Tridarma di Poltekkes Semarang dirancang menjadi satu rantai perubahan utuh di masyarakat, di mana pilar pendidikan menemukan masalah nyata di lapangan, pilar penelitian menghasilkan bukti ilmiah (evidence-based), serta pilar pengabdian masyarakat menerapkan solusi teknologi tepat guna bersama warga. Komitmen ini juga telah diperkuat melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS) resmi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

“Bagi Poltekkes Kemenkes Semarang, Tridarma bukan sekadar kewajiban akademis, melainkan mesin penggerak perubahan status kesehatan di tingkat keluarga dan desa. Melalui integrasi pendidikan kolaborasi lintas profesi (PKN IPC), produktivitas riset yang konsisten meningkat hingga menghasilkan puluhan inovasi tervalidasi dan paten, serta pengabdian masyarakat yang menyasar langsung ribuan keluarga binaan, kami memastikan kampus hadir memperkuat ketahanan keluarga, meningkatkan kapasitas kader, mendukung puskesmas, dan menyediakan data akurat bagi pengambilan kebijakan pemerintah daerah di Jawa Tengah,” tuturnya.

Baca Juga:  Petani Lampung Timur Sambut Panen Gadu dengan Senyum, Harga Gabah Beri Keuntungan Signifikan

Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Poltekkes Kemenkes Semarang, Runjati, menguraikan bukti konkret dari model pendampingan INEY Fase 2 yang diselaraskan dengan PKN IPC di wilayah lokus prioritas Kabupaten Tegal dan Brebes.

“Melalui model PKN IPC yang terintegrasi dengan program INEY, kami menerjunkan 720 mahasiswa dari 9 program studi bersama 20 dosen pendamping di Kabupaten Tegal dan Brebes. Kolaborasi lintas profesi keperawatan, kebidanan, gizi, hingga sanitasi lingkungan ini berhasil melahirkan 39 inovasi desa berbasis masalah lokal, seperti produk olahan pangan bernutrisi NUKELO, BALEGUNG, Nugget JAGOAN, hingga inovasi digital dan alat ukur mandiri INFATIK dan TIMONTING. Integrasi ini memperkuat kapasitas 25 keterampilan kader Posyandu sekaligus memastikan keluarga sasaran terfasilitasi secara langsung,” paparnya.

Rangkaian kegiatan kunjungan kerja di kampus Poltekkes Kemenkes Semarang kemudian ditutup dengan peninjauan langsung ke mini hospital serta melihat beragam produk inovasi riset dan pengabdian kepada masyarakat di Pusat Unggulan Iptek (PUI).

Di fasilitas mini hospital yang menjadi laboratorium Interprofessional Education (IPE) terpadu, delegasi Setwapres menyaksikan simulasi pelatihan klinis mahasiswa dari berbagai jurusan kesehatan guna memperkuat kesiapan pelaksanaan profesi sebelum terjun mendampingi masyarakat di lapangan. Delegasi juga meninjau display ragam inovasi alat kesehatan tepat guna dan formula makanan bergizi berbasis pangan lokal hasil riset hilirisasi dosen dan mahasiswa.

Kunjungan kerja strategis ini turut dihadiri oleh Direktur Pelayanan Kesehatan Keluarga Kemenkes, Lovely Daisy, Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kemensetneg Faisal Fahmi, Team Leader Tim Percepatan Penurunan Stunting (TP2S) Iing Mursalin, serta jajaran pimpinan dan sivitas akademika Poltekkes Kemenkes Semarang.

sumber : Kemensetneg