Rupiah Melemah, Amin Ak Dorong Pemerintah Tiru Strategi Turki Manfaatkan Momentum Sektor Pariwisata dan Ekspor

Jakarta, PR Politik – Anggota Komisi XI DPR RI, Amin Ak, menilai bahwa tren pelemahan nilai tukar rupiah tidak boleh melulu dipandang sebagai ancaman kelam bagi stabilitas perekonomian nasional. Ia merujuk pada rekam jejak pengalaman Turki yang sukses menyiasati depresiasi mata uang domestik menjadi pemantik pertumbuhan ekonomi, berkat eksekusi kebijakan yang fokus mendongkrak pasokan devisa serta produktivitas nasional.

Wakil Ketua Fraksi PKS tersebut menegaskan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk mengubah tekanan depresiasi rupiah menjadi momentum emas dalam menggenjot daya saing di sektor pariwisata, ekspor komoditas, dan hilirisasi industri.

“Fokus kita bukan meratapi rupiah yang melemah, melainkan mengejar ekonomi yang kuat. Ketika rupiah tertekan oleh dinamika global, kita harus mampu mengubah tantangan itu menjadi peluang ekonomi,” ujar Amin Ak, Rabu (5/8).

Ia memaparkan bahwa dari sudut pandang ekonomi, koreksi nilai tukar rupiah secara otomatis mengubah Indonesia menjadi destinasi wisata yang jauh lebih kompetitif bagi para pelancong mancanegara. Pilihan akomodasi hotel, ragam kuliner, sarana transportasi, hingga berbagai jasa pariwisata menjadi jauh lebih terjangkau jika dihitung menggunakan valuta asing.

“Pariwisata adalah ekspor yang datang ke Indonesia. Wisatawan membawa devisa tanpa kita harus mengirim barang ke luar negeri. Karena itu, pemerintah perlu menjadikan sektor ini sebagai mesin pertumbuhan ekonomi yang lebih agresif,” terangnya.

Oleh sebab itu, ia mendesak pemerintah untuk mempercepat akselerasi destinasi prioritas di luar Bali—seperti Labuan Bajo, Raja Ampat, Danau Toba, Borobudur, Mandalika, hingga Wakatobi—lewat perbaikan akses konektivitas, aspek higienitas, jaminan keamanan, hingga promosi global yang masif.

Selain sektor pariwisata, ia menilai melemahnya rupiah menjadi pendorong utama bagi produk ekspor nasional seperti kelapa sawit (CPO), komoditas perikanan, kopi, kakao, furnitur, tekstil, alas kaki, hingga produk industri kreatif untuk lebih agresif bersaing di pasar global.

Baca Juga:  Legislator PKS Saadiah Uluputty Tekankan Jam Kerja Manusiawi dalam RUU PPRT

“Hilirisasi harus terus dipercepat agar Indonesia tidak lagi hanya menjual bahan mentah. Semakin tinggi nilai tambah produk yang kita ekspor, semakin besar devisa yang masuk dan semakin kuat fondasi ekonomi nasional,” tegasnya.

Di sisi lain, ia mengingatkan agar pemerintah tetap pasang kuda-kuda dan secara persisten memangkas ketergantungan pada bahan baku serta komponen impor industri. Kendati memanfaatkan momentum depresiasi, ia menegaskan bahwa penguatan nilai tukar rupiah tetap tidak boleh diabaikan begitu saja.

“Nilai tukar yang terlalu lemah tetap berisiko memicu inflasi, menaikkan biaya produksi, dan mengurangi daya beli masyarakat. Karena itu, stabilitas ekonomi makro harus tetap menjadi prioritas,” pukasnya.

Sebagai penutup, ia mendorong hadirnya sinergi yang makin erat antara pemerintah, Bank Indonesia (BI), dan pelaku usaha untuk menjaga tingkat inflasi tetap terjangkau, merawat iklim investasi, mempercepat pembangunan infrastruktur, serta memperluas pasar ekspor non-tradisional. Menurutnya, kejayaan ekonomi suatu negara ditentukan oleh kapasitas produksi barang dan jasa yang berdaya saing global.

“Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, bonus demografi, dan potensi pariwisata kelas dunia. Jika semua potensi itu dikelola secara optimal, pelemahan rupiah bukan sekadar menjadi tantangan, tetapi dapat menjadi momentum untuk mempercepat transformasi menuju ekonomi yang lebih produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan,” pungkasnya.

sumber : Fraksi PKS

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Opini