Menlu Sugiono di Pertemuan BRICS: Desak Reformasi Global dan Tuntut Akuntabilitas Atas Gugurnya Pasukan UNIFIL Indonesia

New Delhi, PR Politik – Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, menghadiri BRICS Foreign Ministers’ Meeting (FMM) di New Delhi, India, Kamis (14/5). Dalam forum internasional yang menandai dua dekade berdirinya aliansi tersebut, Indonesia menegaskan posisi strategisnya dalam menyuarakan kepentingan negara-negara berkembang (Global South) di panggung politik dan ekonomi dunia.

“Nilai terbesar BRICS terletak pada penguatan suara negara-negara berkembang dalam membentuk tatanan global masa depan,” ujar Menlu Sugiono saat berbicara dalam pertemuan tersebut.

Pertemuan yang digelar di bawah keketuaan India tahun ini mengusung tema “Building for Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability”. Menlu Sugiono yang berbicara dalam dua sesi utama—yakni sesi tertutup terkait isu global-regional serta sesi terbuka komemorasi 20 tahun BRICS—menegaskan agar blok ini tidak menjadi pemicu polarisasi baru dunia, melainkan menjadi bagian dari solusi konkret.

Indonesia mendesak BRICS untuk memimpin penegakan hukum internasional secara adil dan konsisten tanpa standar ganda. Di samping itu, Sugiono kembali menyuarakan dukungan penuh Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina melalui skema Solusi Dua Negara (Two-State Solution).

Isu krusial yang diangkat secara khusus oleh Menlu Sugiono dalam forum tersebut adalah insiden gugurnya empat personel penjaga perdamaian (peacekeepers) asal Indonesia yang tengah bertugas di bawah misi PBB (UNIFIL). Indonesia menuntut adanya pertanggungjawaban hukum secara total dari pihak-pihak terkait.

Indonesia menegaskan bahwa keselamatan personel penjaga perdamaian PBB adalah prinsip yang tidak boleh dikompromikan oleh kekuatan mana pun di dunia. Selain isu keamanan, Menlu RI juga mendesak adanya reformasi tata kelola ekonomi global, khususnya sistem perdagangan dunia yang bernaung di bawah WTO agar berjalan lebih inklusif, terbuka, dan non-diskriminatif.

Terkait kerja sama finansial, Indonesia menyambut baik penguatan peran New Development Bank (NDB) sebagai alternatif pendanaan pembangunan. Menlu Sugiono membocorkan bahwa saat ini pemerintah Indonesia tengah merampungkan proses internal untuk dapat segera bergabung secara resmi ke dalam lembaga keuangan bentukan BRICS tersebut.

Baca Juga:  Komisi V DPR Setujui Anggaran Kemendes PDT, Dorong Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Desa

Langkah ini dinilai strategis mengingat kekuatan ekonomi BRICS yang sangat masif, di mana blok ini menguasai sekitar 28 hingga 30 persen dari total PDB global serta merepresentasikan 45 persen populasi dunia. Ke depan, Indonesia membidik penguatan kolaborasi di sektor ekonomi, penanganan perubahan iklim, transisi energi, kesehatan, serta reformasi kelembagaan global.

Pertemuan tingkat menteri di New Delhi ini sekaligus menjadi jembatan menuju puncak perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-18 yang dijadwalkan berlangsung pada 12-13 September 2026 mendatang di lokasi yang sama.

sumber : Kemlu RI

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Infografis Terbaru