Jakarta, PR Politik – Anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrat, Irjen Pol (P) Drs. Frederik Kalalembang, menginisiasi forum pemikiran bersama melalui rencana penyelenggaraan seminar sehari sebagai langkah strategis untuk mendorong kemajuan Toraja.
Inisiatif tersebut merupakan tindak lanjut dari pertemuan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) yang sebelumnya membahas persoalan eksekusi Tongkonan, yang dinilai memerlukan pendekatan dialogis, hukum, dan kultural secara seimbang.
Pertemuan awal untuk menggagas seminar ini digelar di kediaman Frederik Kalalembang di kawasan Tanjung Bunga, Makassar, Kamis (19/03/2026). Sejumlah tokoh lintas organisasi hadir dalam forum tersebut, di antaranya Ketua MPH PGIW Pdt. Yohanis Metris, Senior GMKI Dan Pongtasik, serta Ketua DPD GAMKI Sulawesi Selatan Albert Palangda. Diskusi berlangsung dalam suasana konstruktif dengan semangat persatuan dan komitmen bersama untuk merumuskan langkah konkret bagi pembangunan Toraja.
Dalam pertemuan yang turut didukung Persekutuan Gereja Indonesia Wilayah (PGIW) Sulselra itu, disepakati bahwa seminar sehari akan menjadi wadah konsolidasi gagasan dari berbagai elemen masyarakat. Pembahasan mencakup waktu pelaksanaan, lokasi kegiatan, hingga komposisi peserta. Untuk memperkuat arah kegiatan, akan dibentuk tim kecil yang bertugas menyusun konsep dan teknis pelaksanaan secara terstruktur.
Frederik menegaskan bahwa Toraja sebagai salah satu ikon pariwisata nasional memiliki potensi besar yang belum tergarap optimal. Ia menilai, dibandingkan sejumlah destinasi lain di Indonesia, Toraja masih menghadapi berbagai tantangan yang perlu segera dibenahi melalui langkah strategis dan berkelanjutan.
“Toraja memiliki kekayaan budaya, alam, dan potensi ekonomi yang luar biasa. Namun kita harus jujur, masih banyak yang perlu dibenahi. Seminar ini menjadi pintu masuk untuk membahas persoalan sosial, hukum, dan keamanan, termasuk dinamika yang muncul di tengah masyarakat seperti persoalan Tongkonan, dengan pariwisata sebagai sektor penggerak utama,” ujarnya.
Ia menambahkan, sektor pariwisata harus diposisikan sebagai ekosistem yang terintegrasi dengan sektor lain seperti pertanian, peternakan, dan perkebunan. Produk unggulan seperti kopi Toraja serta kerajinan lokal perlu dikelola secara terpadu, sementara nilai-nilai adat dan budaya harus tetap dijaga sebagai identitas utama.
Frederik juga menekankan pentingnya peran generasi muda serta sinergi lintas organisasi dalam mendorong pembangunan daerah.
“Saya berharap GAMKI dengan semangat mudanya, didukung oleh para senior GMKI, dan PGIW Sulselra serta dilandasi iman dan pengharapan, melalui seminar ini kita dapat menggali kembali nilai-nilai budaya dan memperkuat semangat persatuan, guna mewujudkan Toraja sebagai kota pariwisata yang maju dan berdaya saing,” ungkapnya.
Seminar tersebut direncanakan akan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, tokoh agama, akademisi, hingga pelaku usaha dan komunitas masyarakat. Kehadiran Bupati Toraja Utara dan Bupati Tana Toraja diharapkan dapat memperkuat koordinasi serta arah kebijakan pembangunan daerah.
Melalui inisiatif ini, Frederik Kalalembang berharap tercipta ruang dialog yang konstruktif dan berkelanjutan, sekaligus menghasilkan rekomendasi strategis yang dapat diimplementasikan secara nyata.
“Saya berharap melalui seminar ini kita dapat melahirkan sebuah kesepakatan bersama antara pemerintah, tokoh adat, tokoh agama, masyarakat, serta seluruh stakeholder terkait. Kesepakatan tersebut menjadi landasan bersama dalam melangkah, sehingga tidak lagi terjadi saling menyalahkan, melainkan terbangun semangat kolaborasi demi kemajuan Toraja yang kita cintai,” jelas Frederik.















