Medan, PR Politik – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara menyelenggarakan Mentoring Class Forest Youthverse Resilience bertajuk “Youth for Biodiversity Resilience: Generasi Muda Bergerak, Kekayaan Alam Terjaga”. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai ruang edukasi bagi generasi muda untuk memperkuat kapasitas pengetahuan, kesiapsiagaan, serta peran strategis mereka dalam membangun ketangguhan masyarakat dan menjaga kelestarian keanekaragaman hayati.
Dalam forum tersebut, pembahasan mengenai krusialnya peran pemuda pada situasi kebencanaan menjadi salah satu materi utama. Bencana alam dipandang tidak hanya menguji kesiapan fisik masyarakat dalam menyelamatkan diri, tetapi juga menguji kecakapan dalam menyaring dan memilah informasi. Di era derasnya arus komunikasi digital, sebuah informasi yang belum terverifikasi dapat menyebar jauh lebih cepat dibanding hadirnya bantuan di lapangan. Oleh karena itu, generasi muda memegang posisi vital, tidak sekadar sebagai relawan fisik, melainkan juga sebagai garda depan penyebar informasi yang sah, akurat, dan tepercaya.
Kepala Dinas Kepemudaan dan Keolahragaan Provinsi Sumatera Utara, M. Mahfullah Pratama Daulay, dalam pemaparannya menegaskan posisi sentral pemuda sebagai “agen perubahan” (agent of change) sekaligus “agen ketangguhan”. Menurutnya, pemuda dibekali potensi strategis karena kecepatan bertindak, penguasaan teknologi digital, kepedulian sosial, serta kemampuan menggerakkan jejaring komunitas.
Dalam konteks manajemen bencana, keunggulan tersebut wajib diarahkan menjadi tindakan rasional dan bertanggung jawab, salah satunya melalui disiplin verifikasi informasi sebelum disebarluaskan. Pesan “Jadilah penyebar kepastian” menjadi krusial untuk mencegah kepanikan publik di tengah situasi darurat.
“Pemuda jangan hanya menjadi relawan ketika bencana terjadi. Jadilah pemuda yang siap sebelum bencana, tanggap saat bencana, dan hadir dalam pemulihan. Karena pemuda bukan hanya penerima dampak, tetapi agen perubahan dan agen ketangguhan,” ujarnya.
Relevansi peran pemuda ini mencakup keseluruhan siklus penanggulangan bencana, mulai dari fase mitigasi dan kesiapsiagaan pra-bencana, penanganan darurat saat bencana terjadi, hingga proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Melalui integrasi teknologi digital, pemuda dapat dioptimalkan untuk memetakan titik risiko, mendiseminasi peringatan dini, mengoordinasikan bantuan relawan, serta melaporkan kondisi empiris lapangan secara presisi.
Melalui Forest Youthverse Resilience, BBKSDA Sumut mendorong pemahaman komprehensif bahwa ketangguhan bencana bukan sekadar daya tahan untuk bangkit pascamusibah, melainkan kapasitas kolektif dalam mencegah risiko, mengambil tindakan responsif yang tepat, serta menjaga ketenangan dan kecukupan informasi di tengah masyarakat.
sumber : Kemenhut















