Jakarta, PR Politik – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat daya saing industri kecil dan menengah (IKM) nasional, khususnya di sektor fesyen dan kriya. Langkah strategis ini ditempuh agar para pelaku usaha mampu tumbuh secara berkelanjutan, memperluas jangkauan pasar, serta terintegrasi ke dalam rantai pasok industri skala besar melalui pendampingan bisnis berkesinambungan dalam program Creative Business Incubator (CBI).
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menegaskan bahwa di tengah persaingan pasar yang kian kompetitif, pelaku IKM tidak boleh hanya mengandalkan kualitas produk semata. Para wirausaha dituntut memiliki strategi bisnis yang presisi, pemahaman mendalam terhadap karakter konsumen, serta identitas produk yang kuat sebagai pembeda utama di pasar.
“Kami terus memantau dan memastikan agar para wirausaha muda dan IKM sektor fesyen dan kriya bisa lebih berani, produktif, dan naik kelas dengan memiliki strategi bisnis yang tepat, terukur, dan terus dievaluasi. Oleh sebab itu, kami memiliki Program Creative Business Incubator yang diinisiasi Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) di bawah Ditjen IKMA yang fokus pada pengembangan sektor industri ini,” kata Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (16/8).
Langkah pembinaan ini sejalan dengan tren positif kinerja sektor fesyen dan kriya nasional yang mencatatkan lonjakan pertumbuhan dari 2,43 persen pada tahun 2024 menjadi 4,93 persen pada tahun 2025. Performa ekspor pun menunjukkan capaian impresif; sepanjang periode Januari–April 2026, nilai ekspor industri kriya menembus USD 228 juta, sementara ekspor pakaian jadi dan industri tekstil masing-masing menyumbang USD 2,78 miliar dan USD 1,04 miliar.
“Tantangannya adalah bagaimana desainer maupun pemilik usaha dan jenama mampu membangun identitas yang kuat, memahami konsumen, serta menciptakan nilai unik yang menjadi keunggulan kompetitif di tengah persaingan pasar,” ujarnya.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita, menjelaskan bahwa Program CBI 2026 dirancang secara terstruktur dengan melibatkan akademisi serta praktisi kompeten. Program ini terbukti berhasil melahirkan alumni yang sukses memperluas kapasitas produksi, mendongkrak omzet, hingga menembus rantai pasok industri besar—seperti jenama Rappo asal Makassar yang berkolaborasi dengan Garuda Indonesia dan Borobudur Marathon.
“Peserta akan mendapatkan kelas dengan kurikulum yang telah disusun dengan mempertimbangkan kebutuhan wirausaha muda, serta metode pembelajaran berupa materi, diskusi, penugasan mandiri, dan evaluasi. Kami berharap program ini mampu mendukung IKM agar dapat naik kelas, memperluas pasar, serta mengembangkan bisnis yang berkelanjutan,” ujarnya.
“Keberhasilan para alumni tersebut menunjukkan bahwa pendampingan yang tepat dapat membuka peluang yang jauh lebih besar bagi IKM, baik dalam peningkatan kapasitas usaha, pengembangan pasar maupun membangun kemitraan dengan industri yang lebih besar,” lanjutnya.
Guna memperluas jangkauan program, BPIFK Kemenperin secara rutin menggelar forum diskusi dan lokakarya interaktif, seperti Creative Talk di Celuk Design Centre, Gianyar, Bali. Kegiatan ini ditujukan untuk menjaring pelaku IKM yang memiliki komitmen tinggi untuk berkembang.
Kepala BPIFK, Dickie Sulistya, menyampaikan bahwa pendaftaran Program CBI 2026 dibuka pada 20 Juli hingga 17 Agustus 2026. Dalam salah satu sesinya, wirausaha muda dibekali metode Value Proposition Canvas untuk memetakan solusi produk secara presisi sesuai kebutuhan konsumen.
“BPIFK rutin menggelar Creative Talk, baik melalui daring maupun tatap muka. Kegiatan ini tidak hanya ditujukan bagi pelaku IKM yang sudah berkembang, tetapi juga menyasar pelaku usaha fesyen dan kriya yang ingin naik kelas serta berkomitmen mengikuti tahapan membangun bisnis yang berkelanjutan,” ujarnya.
“Kami berharap semakin banyak pelaku usaha yang memanfaatkan fasilitas pendampingan dari Kemenperin sebagai wadah pengembangan bisnis, perluasan jejaring, dan peningkatan daya saing. Semakin banyak peserta CBI yang berhasil, tentunya kontribusi sektor industri fesyen dan kriya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional juga akan semakin besar,” pungkasnya.
sumber : Kemenperin















