Denpasar, PR Politik – Hari ketiga penyelenggaraan Konferensi Air Internasional IWC-11 di Bali, Rabu (21/10), menjadi wadah strategis bagi para mitra internasional untuk memperkuat kolaborasi serta mempercepat penerapan inovasi pengelolaan perairan berkelanjutan.
Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Internasional dan Diplomasi Lingkungan KLH/BPLH sekaligus Global Focal Point GEF-IW Indonesia, Erik Teguh Primiantoro, menegaskan pentingnya menerjemahkan hasil diskusi global menjadi aksi nyata di tingkat tapak.
“Implementasi menjadi kata kunci. Kita harus mampu menghasilkan aksi nyata di tingkat tapak, tidak hanya untuk menjawab aspek lingkungan dan sains, tetapi juga mendorong kegiatan ekonomi berbasis lingkungan. Untuk itu, diperlukan skema pendanaan inovatif, termasuk dengan melibatkan sektor swasta, agar manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat,” tuturnya.
Dalam rangkaian Konferensi Air Internasional IWC-11, Indonesia memperkenalkan sistem pengairan tradisional Subak di Bali dan kawasan geopark sebagai wujud nyata integrasi kearifan lokal, sains, serta pemberdayaan ekonomi.
Selain contoh praktik baik dari Indonesia, perwakilan United Nations Environment Programme (UNEP), Christine Haffner-Sifakis, menyoroti pentingnya skema blended finance atau pembiayaan campuran dalam mendukung pengelolaan perairan lintas batas.
“Kami belajar banyak dari komunitas ini. Kami dapat mengembangkan sinergi, bekerja sama dengan lebih efektif, dan yang terpertama, terus membangun kemitraan yang kuat,” ungkapnya.
Sementara itu, perwakilan Pacific Community, Raymond Schuster, menggarisbawahi pendekatan source to sea serta pelibatan aktif masyarakat sebagai kunci utama keberlanjutan infrastruktur perairan.
“Hal yang paling penting untuk membangun keberlanjutan adalah memastikan para pemangku kepentingan terlibat dan memiliki rasa kepemilikan terhadap kegiatan maupun infrastruktur yang dibangun. Kita juga perlu memiliki sistem tata kelola yang baik agar pelaksanaannya semakin efektif,” jelasnya.
Melalui ajang Konferensi Air Internasional IWC-11, Indonesia optimistis pertukaran pengetahuan antarnegara mampu menghasilkan solusi konkret guna menjaga kelestarian ekosistem perairan global.
sumber : KemenLH















