Jakarta, PR Politik –Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Rivqy Abdul Halim, mendorong pemerintah bersama PT Kereta Api Indonesia (Persero) untuk segera mengeksekusi penambahan armada Kereta Rel Listrik (KRL) Jabodetabek. Langkah ini dinilai sangat mendesak menyusul lonjakan jumlah pengguna harian yang memicu penumpukan penumpang ekstrem pada jam-jam sibuk.
Ia menilai kondisi penumpukan penumpang pada pagi dan sore hari telah mengurangi kenyamanan mobilitas masyarakat urban pengguna transportasi publik.
“Kami melihat kondisi saat ini, KRL sudah amat sangat padat, terutama pada jam berangkat dan pulang kerja. Kondisi ini tentu tidak nyaman bagi masyarakat. Karena itu, kami mendorong adanya penambahan jumlah KRL agar kepadatan bisa dikurangi. Tetapi penambahan armada harus dibarengi dengan peningkatan standar keselamatan dan kenyamanan penumpang,” ujar Rivqy di Jakarta, Jumat (25/9).
Volume Penumpang Harian dan Kehadiran Negara
Merujuk pada data PT KAI, volume penumpang KRL Jabodetabek saat ini berada di angka rata-rata 1,1 juta orang per hari dan berpotensi melonjak hingga 1,3 juta orang pada momen-momen tertentu. Sebagai tulang punggung transportasi yang menghubungkan area pemukiman dengan pusat kegiatan ekonomi dan pendidikan, penguatan kapasitas KRL menjadi sebuah keharusan.
“Artinya, kebutuhan terhadap transportasi massal berbasis rel terus meningkat. Kepadatan tidak bisa terus dianggap sebagai konsekuensi yang harus diterima masyarakat. Negara harus hadir memastikan pertumbuhan jumlah penumpang diikuti pertumbuhan kapasitas layanan,” tegas legislator asal Jawa Timur tersebut.
Opsi Impor dan Perlindungan Industri Nasional
Mengenai rencana opsi impor armada untuk mengatasi keterbatasan kapasitas, pria yang akrab disapa Gus Rivqy ini mengingatkan pemerintah agar tidak terburu-buru tanpa memperhitungkan faktor teknis jangka panjang serta keselamatan moda.
“Kalau pemerintah memutuskan impor KRL, jangan sekadar berpikir bagaimana kereta bisa cepat datang. Yang harus dipastikan adalah apakah kereta tersebut benar-benar aman, laik operasi, sesuai dengan kondisi infrastruktur kita, dan memberikan kenyamanan kepada penumpang,” katanya.
Membangun Ekosistem Perkeretaapian Terpadu
Ia menekankan pentingnya kesesuaian armada impor dengan infrastruktur serta sistem persinyalan eksisting, ketersediaan komponen suku cadang, dan jaminan perawatan berkelanjutan tanpa mengorbankan industri perkeretaapian domestik.
“Jadi solusinya bukan sekadar menambah kereta. Kita harus membangun ekosistem transportasi KRL yang kapasitasnya memadai, aman, nyaman, tepat waktu, dan mampu menganticipasi pertumbuhan penumpang ke depan,” kata legislator asal Jawa Timur ini.
sumber : Fraksi PKB















