Jakarta, PR Politik – Pemerintah Republik Indonesia tengah menyiapkan langkah terukur untuk memproduksi bahan bakar campuran etanol 20 persen (E20) dalam dua tahun mendatang. Strategi percepatan ini dibahas langsung dalam rapat terbatas yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (16/9).
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyampaikan bahwa Presiden Prabowo menginstruksikan kementerian/lembaga terkait untuk menyiapkan langkah konkret, mulai dari pemetaan lahan tebu sebagai bahan baku utama hingga penyiapan infrastruktur industri pengolahannya.
“Ratas dipimpin Bapak Presiden langsung, kita membahas agar dua tahun mendatang kita sudah bisa produksi paling kurang E20. Oleh karena itu, tadi Mentan diminta menyiapkan rencana termasuk lahan dan seterusnya,” ujarnya usai mengikuti rapat.
Pemerintah memetakan kebutuhan lahan tebu sekitar 2 juta hektare yang bakal tersebar di Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, hingga Papua. Sementara itu, pembangunan kilang dan industri pengolahan etanol akan dikomandoi oleh Danantara.
“Mengonversi etanol itu yang paling memungkinkan ternyata dari tebu. Menyiapkan lahannya lebih kurang 2 juta hektare, ada yang dari luar Jawa, ada yang dari Jawa, ada dari Sumatra akan disiapkan. Kemudian Danantara yang akan membangun industrinya, dalam dua tahun kita harus bekerja keras melihat perkembangan dulu yang sekarang. Kita harus mampu untuk menghasilkan E20, kira-kira itu intinya tadi,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa keterbatasan lahan (bottleneck) dapat diatasi dengan mengoptimalkan kawasan potensial di berbagai pulau besar. Melalui skema ini, minyak mentah (crude oil) yang dikonsumsi secara nasional nantinya dapat dicampur langsung dengan etanol buatan dalam negeri.
“Setelah kita kaji dan seterusnya dimungkinkan dalam dua tahun mendatang crude oil kita sudah bisa dicampur dengan E20 itu, dalam dua tahun. Memang yang menjadi titik bottleneck adalah lahan. Tapi setelah dibahas tadi ada dari Kalimantan, ada dari Sumatra, ada dari Jawa, dan ada dari Papua,” ujarnya.
“E20 dalam negeri semuanya. Bertahap kita akan menuju E50, seperti B50. Tapi yang pertama ini E20, jangka panjang akan menuju E50,” tuturnya.
Pemilihan tebu sebagai bahan baku utama ditetapkan setelah mempertimbangkan komoditas lain seperti jagung dan singkong yang dinilai kurang efisien dan sulit diterapkan mekanisasi panen skala besar.
“Lahan, lahan yang ada. Karena kan tebu itu tidak semua daerah cocok ya. Tadi sudah dihitung kalau jagung nggak mungkin, nggak masuk hitungannya. Ya kemudian singkong, singkong juga dihitung-hitung itu tidak mudah. Tidak mudah panennya dan seterusnya karena tidak bisa mekanisasi. Ketemu tebu,” pungkasnya.
sumber : Kemensetneg















