Penguat Inklusi Sosial dan Kesetaraan Gender, Lisda Hendrajoni Inisiasi Forum Komunikasi PKBM Digital

Jakarta, PR Politik – Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Lisda Hendrajoni, mencermati secara mendalam upaya pemerintah dalam membangun serta meratakan akses pendidikan nasional. Guna memperkuat fondasi tersebut, Lisda mengambil langkah strategis dengan menginisiasi pembentukan Forum Komunikasi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Digital.

“Saya merasa perlu ikut menginisiasi guna menggenapi dan mengambil langkah untuk menguatkan PKBM yang belum banyak diberdayakan dengan membentuk forum komunikasi,” ungkapnya, Rabu (12/8).

Ia menuturkan bahwa PKBM semestinya tidak hanya dipandang sebagai sarana substitusi atau alternatif semata. Keberadaan lembaga ini harus difungsikan sebagai mesin inklusi sosial yang sanggup menjangkau lapisan masyarakat terluar yang tidak tersentuh oleh kaku dan ketatnya sistem sekolah konvensional.

“PKBM adalah mesin inklusi sosial yang menjangkau kelompok masyarakat yang tidak tersentuh oleh sistem sekolah konvensional. Alat memberantas kebodohan dan kemiskinan,” ujarnyanya.

Dalam merumuskan arah Forum Komunikasi PKBM Digital, Lisda memetakan sejumlah fungsi krusial PKBM. Salah satunya adalah menyediakan fleksibilitas belajar bagi masyarakat marjinal atau mereka yang sempat terputus dari jalur sekolah formal, mulai dari program Paket A, B, hingga C demi mendongkrak Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

“Artinya, sistem pendidikan formal memiliki struktur dan batasan usia yang ketat. PKBM hadir menggenapi peran pemerintah dengan menyediakan fleksibilitas yang dibutuhkan oleh masyarakat marjinal atau mereka yang mengalami putus sekolah,” paparnya.

Ia menambahkan, PKBM menjadi wadah ideal bagi pendidikan sepanjang hayat (lifelong learning) dengan kurikulum yang dapat disesuaikan secara kontekstual mengikuti potensi ekonomi daerah. Selain itu, legislator asal Dapil Sumatera Barat I ini menyoroti peran PKBM sebagai katalisator pemberdayaan perempuan yang sering kali menghadapi hambatan struktural seperti pernikahan dini, keterbatasan ekonomi, atau peran domestik.

Baca Juga:  Sartono Hutomo Tegaskan RUPST Telkom Jadi Momentum Evaluasi dan Penyegaran Direksi

“Di samping itu, diperlukan juga pendidikan sepanjang hayat dengan menyediakan ruang belajar tanpa batasan usia, memungkinkan masyarakat dewasa untuk terus memperbarui pengetahuan dan keterampilannya sesuai perkembangan zaman,” ujarnya.

Lewat jadwal belajar yang adaptif serta pembekalan vokasi—seperti kerajinan, kuliner, hingga manajemen usaha kecil—ibu rumah tangga maupun pekerja wanita tetap dapat meningkatkan kapasitas diri tanpa mengabaikan tugas keluarga. Langkah ini diyakini berdampak langsung pada penguatan literasi keluarga, kesehatan anak, serta penurunan angka stunting.

Tidak kalah penting, ia menekankan perlunya integrasi penguasaan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) serta literasi digital hingga ke tingkat akar rumput melalui PKBM agar tidak tercipta jurang digital (digital divide).

“Kemudian yang tidak kalah pentingnya adalah integrasi penguasaan STEM di tingkat akar rumput, bahwa penguasaan STEM tidak boleh terbatas pada sekolah favorit atau perguruan tinggi saja. PKBM berperan penting mendekatkan konsep STEM ke masyarakat luas agar tidak terjadi jurang digital,” urainya.

Ia menyimpulkan bahwa penguatan kapasitas tata kelola, kualifikasi tutor, serta sarana prasarana PKBM merupakan investasi yang sangat strategis demi menekan Angka Pengangguran Terbuka dan meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) maupun Murni (APM) daerah.

“Dengan mengintegrasikan sains, teknologi, dan pemberdayaan berbasis gender ke dalam program PKBM, pemerintah dan masyarakat dapat bersama-sama membangun SDM yang adaptif, mandiri, dan berdaya saing global,” pungkasnya.

sumber : Fraksi Nasdem