Perdalam Struktur Manufaktur, Kemenperin Hubungkan 30 IKM Logam Jabar Masuk Rantai Pasok Industri Raksasa

Jakarta, PR Politik – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) semakin aktif memacu keterlibatan sektor industri kecil dan menengah (IKM) ke dalam ekosistem rantai pasok industri nasional. Salah satu langkah taktis yang ditempuh adalah mempertemukan pelaku IKM logam potensial dengan perusahaan skala besar guna membangun kemitraan bisnis yang berkelanjutan, sekaligus meningkatkan penggunaan produk dalam negeri dan memperdalam struktur manufaktur domestik.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menegaskan bahwa IKM memegang kontribusi krusial dalam pembangunan sektor industri nasional, terutama dalam menggerakkan roda perekonomian daerah serta menyerap tenaga kerja. Oleh sebab itu, perluasan kemitraan dengan korporasi besar mendesak dilakukan agar pelaku IKM dapat meningkatkan kapasitas produksi, kualitas produk, dan daya saingnya.

“IKM berperan besar dalam menggerakkan perekonomian serta penyerapan tenaga kerja. Oleh karena itu, penguatan kemitraan antara IKM dan industri besar menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kinerja IKM sekaligus memperkuat ketahanan industri manufaktur nasional,” ujarnya dalam keterangan resminya di Jakarta, Minggu (9/8).

Menurut Menperin, subsektor industri logam menempati posisi strategis dalam struktur manufaktur karena menjadi pemasok utama berbagai komponen serta produk penunjang bagi sektor-sektor raksasa, mulai dari otomotif, alat berat, alat kesehatan, konstruksi, hingga permesinan.

“Ketika IKM mampu menjadi bagian dari rantai pasok industri besar, baik BUMN maupun swasta, sekaligus terlibat dalam program vendor development, peluang untuk meningkatkan kapasitas produksi dan kompetensi akan semakin besar. Dengan demikian, IKM tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan industri, tetapi juga mendukung terwujudnya rantai pasok nasional yang semakin tangguh,” tuturnya.

Guna merealisasikan target tersebut, Kemenperin melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) menyelenggarakan agenda Fasilitasi Kemitraan IKM Logam dengan Industri Besar di Jawa Barat pada 29–30 Juli 2026. Ditjen IKMA menggandeng Asosiasi Pengusaha Engineering Karawang (APEK) untuk menyaring IKM potensial agar dapat dipertemukan langsung dengan calon mitra industri besar.

Baca Juga:  Kemenkes Terjunkan Relawan TCK ke Aceh Tamiang, Pastikan Huntara Bebas Risiko Penyakit

Provinsi Jawa Barat dipilih sebagai lokasi strategis program karena berstatus sebagai salah satu basis industri manufaktur terbesar di Indonesia. Keberadaan berbagai perusahaan manufaktur berskala nasional dan multinasional di wilayah ini menciptakan kebutuhan rantai pasok yang sangat masif dan beragam.

Direktur Jenderal IKMA, Reni Yanita, memaparkan bahwa peluang bagi IKM logam kini semakin luas. Peran mereka tidak lagi terbatas sebagai pemasok komponen mentah, melainkan dapat beralih menjadi penyedia layanan perawatan (maintenance), perbaikan (repair), hingga rekayasa mesin (engineering).

“Pelaksanaan temu bisnis ini merupakan salah satu upaya untuk mempertemukan IKM dengan industri besar dalam rangka membangun kemitraan yang saling menguatkan. Melalui dialog dan penjajakan peluang bisnis secara langsung, IKM dapat memahami kebutuhan industri, meningkatkan kesiapan usahanya, serta membuka peluang untuk menjadi pemasok bagi industri besar,” katanya.

Reni berharap forum ini tidak mandek pada aktivitas seremonial, tetapi berlanjut pada hubungan komersial yang nyata. “Kami berharap kegiatan ini menghasilkan tindak lanjut kemitraan yang nyata dan berkelanjutan sehingga dapat memperkuat ekosistem industri nasional,” ujarnya mengimbuhkan.

Rangkaian program fasilitasi ini diawali dengan metode peninjauan lapangan (factory visit) ke sejumlah fasilitas IKM logam di Kabupaten Karawang dan Kabupaten Bekasi. Kunjungan langsung ini bertujuan agar jajaran manajemen industri besar dapat mengaudit secara langsung kualitas kontrol, kapasitas mesin, serta kesiapan manajemen IKM.

Setelah peninjauan lapangan, agenda dilanjutkan dengan sesi Temu Bisnis di Karawang pada 30 Juli 2026 untuk memetakan spesifikasi kebutuhan industri besar secara konkret.

“Forum ini menjadi wadah dialog antara pelaku IKM dengan industri besar untuk membahas kebutuhan industri, spesifikasi produk, standar kualitas, hingga peluang kerja sama yang dapat diwujudkan melalui kemitraan bisnis yang berkelanjutan,” ungkapnya.

Baca Juga:  Menteri PANRB Dorong Peningkatan Kapasitas Kepemimpinan Birokrasi Melalui Pelatihan PKN Tingkat I

Sementara itu, Plt. Direktur Industri Kecil dan Menengah Logam, Mesin, Elektronika, dan Alat Angkut, Budi Setiawan, menjelaskan bahwa agenda ini juga menjadi sarana bagi IKM untuk memahami peta kebutuhan pasar terkini dan membangun jejaring bisnis jangka panjang. Kegiatan ini menghadirkan berbagai narasumber kompeten, termasuk dari Himpunan Pengembangan Ekosistem Alat Kesehatan Indonesia (HIPELKI) dan Perkumpulan Alat Besar Indonesia (HINABI).

“Kami berharap melalui kegiatan fasilitasi kemitraan ini dapat terjalin hubungan bisnis yang berkelanjutan serta semakin memperkuat keterlibatan IKM dalam rantai pasok industri nasional. Dengan demikian, IKM dapat berkontribusi dalam memperdalam struktur industri, memperkuat kemandirian industri nasional, dan mendukung pembangunan sektor manufaktur yang semakin maju,” pungkasnya menutup keterangannya.

sumber : Kemenperin RI