Jakarta, PR Politik – Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu), Nurkholisoh Ibnu Aman, mendorong jajaran pegawai di lingkungan Kementerian Keuangan untuk mengoptimalkan pemanfaatan AI pengelolaan APBN, sembari tetap mewaspadai berbagai potensi risiko keamanan teknologi informasi.
Imbauan tersebut ia sampaikan saat membuka Seminar Series Artificial Intelligence bertajuk “Living Side by Side with AI: The Good and The Bad” dalam rangka peringatan Hari Oeang ke-80 di Jakarta, Senin (26/10).
Dalam penjelasannya, ia menilai teknologi kecerdasan buatan mampu memperkuat seluruh siklus APBN, mulai dari pemetaan potensi pajak baru, deteksi ketidakpatuhan, hingga evaluasi efektivitas alokasi belanja negara.
“Di sisi belanja, AI bisa membantu memastikan bahwa setiap rupiah yang kita alokasikan, yang kita anggarkan itu berhasil benar-benar bermanfaat,” jelasnya.
Dari perspektif pembiayaan, ia menyebut kecerdasan buatan dapat memprediksi risiko keuangan negara secara presisi agar adaptif terhadap gejolak ekonomi global.
Kendati demikian, ia memaparkan tiga bahaya utama penggunaan AI, yakni risiko tertipu teknologi deepfake, risiko terlena yang mengikis pola pikir kritis, serta risiko tersebarnya data rahasia ke platform yang tidak terotorisasi.
Ia menekankan bahwa keberadaan AI sebatas alat bantu analisis, sementara keputusan hukum dan administratif tetap berada penuh di tangan pejabat terkait.
“AI itu sekali lagi memberi tanda, memberi petunjuk, membantu kita, tapi tetap manusia yang memutuskan. Tetap pemeriksa pajak di lapangan yang memutuskan. Tetap pejabat, bapak ibu pejabat, termasuk saya yang menandatangani, yang mengambil tanggung jawab,” pungkasnya.
sumber : Kemenkeu















