Serang 19 Warga di Tembilahan, BBKSDA Riau dan Pemkab Inhil Terjunkan Tim Buru Monyet Ekor Panjang Berwajah Codet

Tembilahan, PR Politik – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau melalui Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Bidang KSDA Wilayah I memperkuat sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta lintas sektor. Langkah kolaboratif ini diambil untuk mempercepat penanganan konflik satwa liar jenis Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) yang meresahkan warga di Kecamatan Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir.

Kepala Balai Besar KSDA Riau, Supartono, menegaskan bahwa penanggulangan gesekan antara satwa dan manusia ini wajib dieksekusi secara taktis dan terukur melalui kerja sama integratif antara jajaran pemerintah, aparat, dan elemen masyarakat.

“Keselamatan masyarakat merupakan prioritas utama dalam setiap penanganan konflik satwa liar. Namun demikian, upaya mitigasi juga harus tetap mengedepankan prinsip konservasi. Karena itu, kami terus bersinergi dengan pemerintah daerah, aparat keamanan, dan seluruh pemangku kepentingan untuk melakukan pemantauan, identifikasi, serta penanganan yang tepat terhadap individu satwa penyebab konflik tanpa menimbulkan risiko yang lebih besar bagi masyarakat maupun satwa itu sendiri,” katanya.

Guna menyamakan persepsi dan mengevaluasi peta pergerakan satwa, Tim WRU BBKSDA Riau menggelar rapat koordinasi bersama Kapolres Indragiri Hilir, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran, Camat Tembilahan, dan Lurah Tembilahan Kota di Kantor Lurah Tembilahan Kota, Rabu (5/8).

Berdasarkan hasil pemetaan dan koordinasi di lapangan, sebaran area konflik terfokus pada kawasan Parit 12, Parit 13, Parit 14, dan Parit 15 di sepanjang Jalan Malagas, Kelurahan Tembilahan Kota. Sejak kasus ini mencuat pada 23 Juli 2026 hingga 5 Agustus 2026, teror satwa tersebut telah mengakibatkan 19 warga menderita luka fisik akibat gigitan, serta memicu dampak psikologis berupa kecemasan massal di tengah pemukiman.

Baca Juga:  Indonesia Perjuangkan Reformasi WTO dan Ketahanan Pangan di Konferensi Tingkat Menteri Kamerun

Hasil investigasi sementara menyimpulkan bahwa rentetan serangan brutal ini diduga kuat didalangi oleh satu individu Monyet Ekor Panjang jantan dewasa yang memiliki karakteristik fisik spesifik berupa bekas luka (codet) di bagian pipi.

Satwa ini diketahui memiliki pola serangan oportunistik, yaitu mengintai korban yang tengah beraktivitas sendirian atau dalam kondisi lengah. Pelaku primata tersebut akan langsung menggigit bagian kaki korban secara cepat sebelum akhirnya melarikan diri ke rimbunan pohon. Hingga berita ini diturunkan, monyet bercodet tersebut dilaporkan masih liar dan belum merespons jebakan umpan buah pisang yang dipasang petugas.

Sebelum Tim WRU BBKSDA turun ke lokasi, jajaran Pemkab Inhil bersama Forkopimda sebenarnya telah mengupayakan langkah penahanan darurat. Operasi penyisiran berkala sempat dilakukan menggunakan instrumen jaring dan tangguk dengan melibatkan personel gabungan TNI, Polri, BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, aparatur kecamatan, serta barisan relawan setempat.

Melalui konsensus rapat koordinasi terbaru, diputuskan bahwa operasi penanganan akan mengombinasikan jaminan keselamatan warga dengan kaidah konservasi. Seluruh elemen masyarakat dilarang keras melakukan perburuan liar atau tindakan destruktif terhadap satwa. Sebagai gantinya, petugas akan memperketat patroli lapangan dan memaksimalkan pemasangan kandang perangkap khusus sebagai sarana evakuasi yang aman.

Sebagai langkah preventif, BBKSDA Riau mengimbau warga Tembilahan untuk melipatgandakan kewaspadaan, menghindari mobilitas sendirian di jalur perlintasan satwa, serta tidak memberikan pasokan makanan (feeding) yang dapat memicu satwa liar mendekati pemukiman. Warga diminta segera menghubungi nomor darurat petugas apabila mendeteksi keberadaan primata dengan ciri codet tersebut agar situasi dapat segera dinormalisasi tanpa melanggar regulasi konservasi.

sumber : Kemenhut