Puji Visi Global Ponpes BIMA, Gus Muhaimin Tantang Lulusan Santri Pegang Kendali Indonesia di 2030

Creston / Cirebon, PR Politik – Ketua Umum DPP PKB, Abdul Muhaimin Iskandar (Gus Muhaimin), menghadiri agenda Wisuda Kelas XII SMA dan MA Unggulan Bertaraf Internasional serta SMK Unggulan Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA) di Cirebon, Jawa Barat, Minggu malam (28/6).

Dalam sambutannya, ia mengungkapkan kekagumannya terhadap akselerasi perkembangan Pesantren BIMA. Ia menilai lembaga pendidikan berbasis keagamaan ini berhasil merumuskan konsep pendidikan yang visioner, adaptif, serta relevan dalam menjawab tantangan zaman. Menariknya, ia mengaku pertama kali mengenal Pengasuh Ponpes BIMA, KH Imam Jazuli, bukan lewat forum formal, melainkan melalui platform media sosial.

“Saya kenal beliau bukan langsung bertemu, tetapi lewat Instagram. Saya melihat ada pesantren yang unik, bangunannya bagus, suasananya luar biasa. Saya sempat bertanya kepada Kiai Said Aqil Siradj, dan beliau mengatakan memang pesantren ini luar biasa. Akhirnya saya beberapa kali sowan ke BIMA dan semakin yakin bahwa pesantren ini memiliki visi, tahapan, dan model pendidikan yang sangat jelas,” ujarnya.

Menurutnya, rekam jejak keberhasilan para lulusan BIMA di kancah global saat ini merupakan bukti otentik bahwa cetak biru pendidikan yang dibangun KH Imam Jazuli berjalan presisi sesuai peta jalan (roadmap) organisasi.

“Ini menunjukkan bahwa Kiai Imam Jazuli sejak awal memiliki konsep, arah, dan tujuan yang jelas. Apa pun program studi yang dipilih para santri, kalau fondasinya kuat, insyaallah akan berhasil sesuai tahapannya,” urainya.

Ia yang hadir didampingi Bendahara Umum DPP PKB Bambang Susanto, Ketua DPW PKB Jawa Barat Syaiful Huda, serta sejumlah anggota DPR RI Fraksi PKB, juga membeberkan memori diskusinya dengan KH Imam Jazuli mengenai penyusunan kurikulum pesantren yang efisien dan padat materi.

Baca Juga:  Golkar Bersama KPK Akan Lakukan Kajian Soal Pembiayaan Politik Terkait Pemilu

“Saya pernah bertanya kepada beliau, apakah pengalaman belajar puluhan tahun di Lirboyo bisa dipadatkan menjadi beberapa tahun. Beliau menjawab sangat bisa. Karena itu kurikulum yang disusun benar-benar menjawab kebutuhan dan tantangan zaman,” ungkapnya.

Ia optimistis pasokan lulusan BIMA andal mempercepat realisasi visi Indonesia Emas 2045. Ia menekankan, untuk mengarungi persaingan ketat, santri masa depan wajib menggenggam tiga pilar utama, yakni keahlian (skill), integritas, dan ketaatan pada metodologi sains.

Menutup pidatonya, ia membakar semangat para wisudawan untuk mengoptimalkan momentum bonus demografi yang tengah dinikmati Indonesia.

“Kalau sekarang kalian lulus, berarti tahun 2030 kalian sudah mulai memegang kendali. Muhaimin Iskandar boleh gagal, tetapi lulusan BIMA tahun 2030 tidak boleh gagal. Modal kalian sangat besar, dan bonus demografi itu mutlak ada di tangan kalian,” tegasnya.

Sementara itu, Pengasuh Ponpes BIMA, KH Imam Jazuli, menyampaikan rasa syukur atas eskalasi prestasi para santri yang konsisten meroket setiap tahun. Ia mengungkapkan, target besar pesantren untuk mencetak 1.000 sarjana di kampus internasional dan 1.000 sarjana di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dalam negeri diproyeksikan bakal terealisasi lebih cepat dari perkiraan awal.

“Target kami tahun 2028 harus ada 1.000 sarjana di kampus internasional dan 1.000 sarjana di PTN nasional. Namun melihat perkembangan saat ini, insyaallah target tersebut akan tercapai pada tahun 2027,” ungkapnya secara optimistis.

Tercatat pada tahun ajaran ini, sebanyak 175 santri siap bertolak melanjutkan studi ke berbagai negara strategis seperti Rusia, Tiongkok, Tunisia, serta sejumlah negara di Timur Tengah. Selain itu, 99 santri lainnya resmi diterima di berbagai PTN favorit di Indonesia, dengan mayoritas menembus program studi ilmu umum.

Baca Juga:  Ismail Fahmi: Pemerintah Harus Perkuat Komunikasi Publik Hadapi Narasi Negatif

Ia memaparkan bahwa diversifikasi ilmu di internal pesantren saat ini sangat masif. Bahkan, para santri yang dikirim ke Timur Tengah kini mulai bergeser mendominasi rumpun sains non-keagamaan.

“Dari 13 santri yang berangkat ke Tunisia, hanya dua orang yang mengambil bidang agama. Selebihnya mengambil bidang-bidang umum,” ujarnya.

Ia menegaskan, penentuan pilihan program studi bagi para santri sengaja diselaraskan dengan kebutuhan geopolitik dan ekonomi makro bangsa Indonesia saat ini.

“Ada yang berangkat ke Rusia mengambil jurusan pertambangan dan teknologi persenjataan. Mengmengapa pertambangan? Karena Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang mampu mengelola tambang. NU sudah mendapat kepercayaan mengelola tambang, tetapi SDM-nya masih harus dipersiapkan. Begitu pula bidang pertahanan. Negara yang tidak memiliki kemampuan pertahanan akan selalu berada dalam posisi tertekan,” cetusnya membedah strateginya.

Mengakhiri laporannya, KH Imam Jazuli menekankan bahwa institusi pesantren modern tidak boleh lagi sekadar puas dengan mencetak pribadi santri yang saleh secara ritual ritualistik. Pesantren harus berevolusi menjadi pabrikasi sumber daya manusia yang bernilai guna tinggi dan mampu menguasai sektor-sektor strategis kenegaraan.

“Saya ingin menggerakkan pesantren-pesantren secara nasional agar memiliki visi yang sama, bukan sekadar mencetak santri yang saleh, tetapi juga mencetak santri yang bermanfaat, membangun negeri, dan menguasai berbagai bidang ilmu yang dibutuhkan negara,” pungkasnya.

sumber : PKB

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Infografis Terbaru