Jakarta, PR Politik – Dinamika kondisi perekonomian nasional pasca-penutupan kuartal ketiga menjadi sorotan utama dalam rapat terbatas yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto bersama jajaran Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (03/11), di mana agenda evaluasi APBN dan inflasi Indonesia tersebut membahas secara komprehensif mulai dari laju kenaikan harga, penguatan manufaktur, pergerakan modal asing, hingga akselerasi belanja negara menuju penutupan tahun anggaran.
Menteri Keuangan (Menkeu), Suahasil Nazara, menyampaikan bahwa indikator makroekonomi domestik masih konsisten berada pada jalur positif, ditandai dengan tingkat inflasi yang terjaga stabil di kisaran sasaran target pemerintah.
“Kita tadi menyampaikan kepada Bapak Presiden mengenai perkembangan ekonomi terkini. Kemarin kan keluar data rilis dari BPS mengenai inflasi 3,23 persen itu di dalam range yang memang menjadi sasaran target dari inflasi Indonesia. Jadi ini on track inflasinya,” ujarnya kepada para awak media usai pertemuan.
Ia memaparkan bahwa posisi inflasi 3,23 persen tersebut masih aman dalam rentang toleransi 1,5 hingga 3,5 persen yang ditetapkan pemerintah.
Selain laju inflasi, laporan sektor riil menunjukkan sinyal ekspansif melalui peningkatan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia dari level 52 melesat ke posisi 54 pada Oktober 2026.
“Jadi meningkat, ini menunjukkan bahwa para pengusaha kita membayangkan bahwa akan ada peningkatan permintaan karena itu pengusaha mulai siap-siap untuk meningkatkan produksi dengan membeli input lebih banyak,” jelasnya.
Aliran modal asing juga dilaporkan terus mengalir masuk menopang pasar keuangan dalam negeri lewat instrumen Surat Berharga Negara (SBN) serta Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Menjelang dua bulan terakhir tahun anggaran, Kementerian Keuangan menargetkan pengumpulan pendapatan negara lebih dari Rp600 triliun dan penyaluran alokasi belanja sekitar Rp990 triliun.
“Kemudian saya juga tadi sempat melaporkan APBN untuk tutup bulan Oktober dimana semuanya on track untuk pendapatan dan belanja. Dan kira-kira untuk pendapatan negara kami harus mengumpulkan lagi November-Desember ini sekitar 600 triliun lebih dan untuk belanja negara masih sekitar 990 triliun akan dibelanjakan,” katanya.
Presiden Prabowo menginstruksikan seluruh kementerian/lembaga untuk menjaga efisiensi anggaran walau daya serap fiskal meningkat tajam menjelang penutupan tahun.
“Dua bulan terakhir seperti biasa namanya operasi APBN itu kalau di akhir tahun biasanya itu ngegas lebih cepat, lebih besar itu silahkan tetapi harus tetap efisien. Harus tetap dalam tata kelola yang baik dan tentu harus dilakukan sesuai dengan target output yang dicanangkan ketika meminta anggaran tersebut,” tegasnya.
sumber : Kemensetneg















