Aleg PKS Ateng Sutisna Dorong Percepatan Pembangunan Bendung Cariang demi Selamatkan Ribuan Hektare Sawah di Ujungjaya

Ateng Sutisna bersama perwakilan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), kelompok tani, dan tokoh masyarakat saat meninjau pembangunan Bendung Cariang dan Sungai Cipelang di Desa Sakurjaya, Kecamatan Ujungjaya, Kabupaten Sumedang, Sabtu (30/5/2026).

Sumedang, PR Politik – Anggota DPR RI Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Ateng Sutisna, melakukan Kunjungan Daerah Pemilihan (Kundapil) ke lokasi pembangunan Bendung Cariang dan Sungai Cipelang di Desa Sakurjaya, Kecamatan Ujungjaya, Kabupaten Sumedang. Kunjungan tersebut dilakukan untuk memantau langsung perkembangan pembangunan bendungan yang telah lama dinantikan masyarakat, khususnya para petani yang terdampak kerusakan bendung sejak 2021.

Kegiatan tersebut dihadiri perwakilan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), Pemerintah Desa Sakurjaya, anggota DPRD Kabupaten Sumedang, kelompok tani, tokoh masyarakat, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Dalam kesempatan itu, Ateng menegaskan bahwa Bendung Cariang memiliki peran strategis dalam mendukung keberlangsungan sektor pertanian di Kecamatan Ujungjaya dan wilayah sekitarnya. Kerusakan bendung yang terjadi beberapa tahun lalu menyebabkan pasokan air ke jaringan irigasi terhenti, sehingga ribuan hektare lahan pertanian mengalami kesulitan mendapatkan air.

“Persoalan Bendung Cariang bukan sekadar pembangunan infrastruktur, melainkan menyangkut kehidupan ribuan petani dan ketahanan pangan daerah. Karena itu, saya ingin memastikan pembangunan berjalan sesuai target agar kebutuhan masyarakat dapat segera teratasi,” ujarnya.

Sebelum mengalami kerusakan, Bendung Cariang berfungsi mengairi sekitar 2.000 hingga 3.000 hektare lahan pertanian yang tersebar di sejumlah desa, di antaranya Desa Ujungjaya, Kudangwangi, Sakurjaya, Keboncau, dan beberapa wilayah lainnya. Sejak bendung jebol, banyak petani menghadapi kendala serius dalam memenuhi kebutuhan air irigasi, bahkan sebagian terpaksa mengeluarkan biaya tambahan untuk melakukan pemompaan air secara mandiri.

Menurut Ateng, dampak kerusakan bendung tidak hanya dirasakan sektor pertanian, tetapi juga memengaruhi kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Sebagian besar warga di kawasan tersebut menggantungkan penghidupan pada sektor pertanian sehingga menurunnya produktivitas sawah turut berdampak pada daya beli masyarakat, kesempatan kerja bagi buruh tani, hingga berpotensi meningkatkan angka kemiskinan apabila tidak segera ditangani.

Baca Juga:  Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian Desak Pemerintah Pastikan Penghapusan Guru Honorer Tidak Timbulkan Kerentanan Baru

Ateng juga menyoroti peran penting Bendung Cariang dalam menjaga ketahanan pangan daerah. Ia menilai Ujungjaya merupakan salah satu kawasan penyangga produksi padi di Kabupaten Sumedang yang harus mendapat perhatian serius. Gangguan pasokan air dalam jangka panjang dapat memengaruhi produksi pertanian dan berdampak pada ketersediaan pangan di tingkat regional.

“Ujungjaya merupakan salah satu lumbung pangan yang harus kita jaga bersama. Ketika produksi pertanian terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh petani, tetapi juga masyarakat luas yang bergantung pada ketersediaan pangan,” katanya.

Dalam pertemuan tersebut, pihak BBWS sebagai pemilik proyek bersama kontraktor pelaksana menyampaikan komitmennya untuk menuntaskan pembangunan Bendung Cariang sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Proyek tersebut ditargetkan selesai sebelum November 2027.

Selain pembangunan bendungan permanen, saat ini juga tengah dipersiapkan sistem pipanisasi sementara sebagai solusi untuk menjaga pasokan air bagi petani selama proses konstruksi berlangsung. Upaya lainnya adalah melakukan koordinasi dengan Kementerian Pertanian dan Dinas Pekerjaan Umum terkait penanganan sedimentasi di wilayah hilir Sungai Cipelang agar aliran air menuju area persawahan dapat berjalan lebih optimal.

Ateng berharap seluruh pihak terus memperkuat kolaborasi dan sinergi guna memastikan pembangunan Bendung Cariang berjalan lancar serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Menurutnya, keberhasilan proyek tersebut akan menjadi langkah penting dalam meningkatkan produktivitas pertanian, memperkuat perekonomian masyarakat desa, sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.

“Dengan pasokan air yang kembali normal dan stabil, petani memiliki peluang untuk meningkatkan intensitas tanam hingga tiga kali dalam setahun. Ini bukan hanya soal panen yang lebih baik, melainkan juga tentang kesejahteraan petani dan masa depan pertanian di Sumedang,” pungkasnya.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Infografis Terbaru