Jakarta, PR Politik (10/12) – Ketua Kelompok Fraksi (Kapoksi) Partai NasDem Komisi II DPR RI, Ujang Bey, menyoroti sejumlah faktor penyebab rendahnya partisipasi masyarakat dalam gelaran Pilkada Serentak 2024. “Ada beberapa catatan dalam pelaksanaan pemilukada serentak, salah satunya rendahnya partisipasi pemilih cukup menjadi sorotan,” ujar Ujang pada Selasa (10/12/2024).
Legislator Partai NasDem dari Daerah Pemilihan Jawa Barat IX, yang meliputi Sumedang, Majalengka, dan Subang, itu mengungkapkan bahwa salah satu penyebabnya adalah jarak waktu kampanye pilkada yang pendek, sehingga para kandidat belum dapat bersentuhan secara optimal dengan masyarakat. “Jarak waktu kampanye pilkada yang pendek hanya dua bulan menyebabkan kandidat kurang ada waktu untuk penetrasi ke grassroot dalam memperkenalkan diri maupun menyampaikan visi-misi,” ungkap Ujang.
Ujang Bey juga menyoroti bahwa jarak antara Pilkada Serentak 2024 dengan gelaran Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 hanya beberapa bulan, yang berpotensi menimbulkan kejenuhan masyarakat dan berdampak pada tingkat partisipasi pemilih. “Kejenuhan politik juga bisa mempengaruhi masyarakat terhadap partisipasi pemilih, mengingat jarak antara pilkada dan pemilu berselang delapan bulan,” kata Ujang.
Lebih lanjut, Ujang menekankan bahwa para kandidat yang berlaga di Pilkada Serentak 2024 belum mampu memenuhi harapan masyarakat, yang berkontribusi pada rendahnya partisipasi. “Bisa jadi kandidat yang ditawarkan oleh partai politik belum bisa menjawab harapan publik,” jelasnya.
Baca Juga: Aboe Bakar: Tingkatkan Pembinaan Mental dan Spiritual di Tubuh Polri
Di sisi lain, Ujang juga mencatat adanya indikasi bahwa kinerja penyelenggara pemilu, seperti Komisi Pemilihan Umum (KPU), belum optimal dalam melakukan sosialisasi di tengah masyarakat. Hal ini berakibat pada rendahnya partisipasi masyarakat dalam Pilkada 2024. “Sosialisasi dari penyelenggara itu sendiri mungkin dilakukan kurang masif dan kurang edukasi tentang pentingnya partisipasi pemilih,” ucap Ujang.
Kendati demikian, Ujang menegaskan bahwa Pilkada Serentak 2024 tetap menjadi torehan sejarah demokrasi Indonesia, karena penyelenggaraan sirkulasi kepemimpinan di tingkat daerah dilakukan secara serentak. “Pilkada serentak menjadi sejarah baru pelaksanaan pesta demokrasi lokal di Indonesia,” tandas Ujang.
Sumber: fraksinasdem.org















