Industri TPT Tumbuh 3,55 Persen, Menperin Agus Gumiwang Optimistis Sektor Manufaktur Tetap Jadi Sunrise

Jakarta, PR Politik – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat daya saing industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) nasional di tengah dinamika geopolitik global. Langkah strategis ini ditegaskan melalui pembukaan pameran Indo Intertex – Inatex 2026 yang menjadi wadah perluasan jejaring bisnis dan adopsi teknologi bagi para pelaku industri.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengungkapkan bahwa sektor manufaktur Indonesia menunjukkan ketahanan yang luar biasa. Sepanjang tahun 2025, industri pengolahan mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,30 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,11 persen.

“Sektor industri pengolahan bahkan mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,30%, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional untuk pertama kalinya dalam 14 tahun terakhir,” ujarnya saat membuka pameran di Jakarta, Rabu (15/4).

Industri TPT tetap menjadi pilar utama penyerap tenaga kerja dan penyumbang devisa. Pada tahun 2025, sektor ini mencatatkan nilai ekspor sebesar USD 12,08 miliar dengan surplus mencapai USD 3,45 miliar, yang didominasi oleh produk pakaian jadi.

Berikut adalah performa sektor industri TPT dalam angka:

  • Pertumbuhan: 3,55 persen (year-on-year).

  • Investasi: Rp20,23 triliun.

  • Tenaga Kerja: 3,96 juta orang (19,48% dari total tenaga kerja manufaktur).

“Dari kinerja tersebut, industri TPT juga mencerminkan masih terjaganya kepercayaan dari pihak investor untuk membawa investasinya ke Indonesia di tengah ketidakpastian geoekonomi dan geopolitik global saat ini,” tambahnya.

Meskipun menunjukkan tren positif, Menperin mengakui adanya hambatan berupa kenaikan harga bahan baku dunia dan disrupsi rantai pasok. Pemerintah kini fokus memantau kebijakan negara mitra dagang dan pergeseran struktur pasar internasional.

Indo Intertex – Inatex 2026 diposisikan sebagai platform business matching strategis untuk menumbuhkan optimisme bahwa tekstil Indonesia masih menjadi industri masa depan (sunrise industry).

Baca Juga:  Kemendagri Perkuat Layanan Dasar Daerah Melalui Program SKALA, Tekankan Kepemimpinan Berbasis Data

“Pameran ini tidak hanya menjadi ajang untuk menampilkan inovasi, tetapi juga sebagai wadah kolaborasi yang dalam pandangan pemerintah merupakan hal positif. Lebih dari itu, pameran ini dapat menunjukkan kepada masyarakat, baik di dalam negeri maupun global, sebagai platform yang menumbuhkan optimisme bahwa industri TPT masih menjadi sektor sunrise,” jelasnya.

Kemenperin berkomitmen mengawal transformasi industri dari hulu ke hilir melalui akselerasi teknologi Industri 4.0 dan prinsip keberlanjutan (sustainability). Fasilitas fiskal dan nonfiskal akan terus diberikan guna meningkatkan efisiensi produksi agar mampu memenuhi standar global yang kian ketat.

Menutup arahannya, Menperin menekankan pentingnya resiliensi bagi para pelaku usaha agar siap melesat saat situasi pasar kembali normal.

“Kami meyakini bahwa kondisi geopolitik dan ketidakpastian pasar ini tidak akan berlangsung lama. Oleh karena itu, optimisme menjadi penting. Pelaku industri yang mampu bertahan dan resilien akan lebih cepat bangkit dan melesat ketika situasi kembali normal,” pungkasnya.

sumber : Kemenperin RI

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Infografis Terbaru