Jakarta, PR Politik (16/11) – Anggota Komisi XII DPR RI, Syarif Fasha, menyoroti lonjakan signifikan penjualan listrik di Bali pasca-pandemi serta ketergantungan provinsi ini terhadap pasokan listrik dari Jawa. Hal itu disampaikan dalam kunjungan kerja spesifik Komisi XII ke Bali pada Jumat (15/11).
“Bali adalah satu-satunya provinsi di Indonesia yang mencatat lonjakan penjualan listrik hingga 16,41 persen, jauh di atas rata-rata nasional sebesar 6,4 persen,” ujar Fasha.
Meski penjualan listrik melonjak, Fasha mengungkapkan keprihatinannya terhadap ketergantungan Bali pada pasokan listrik dari Jawa, yang mencapai 85 persen melalui kabel laut.
“Ironisnya, ketergantungan ini tidak berkelanjutan. Bali harus segera memiliki pembangkit listrik sendiri untuk menjamin kestabilan pasokan energi,” tegas politisi Fraksi Partai NasDem itu.
Sebagai solusi, Fasha mendorong pembangunan pembangkit listrik di Bali dan memasukkan proyek tersebut ke dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN). Ia juga mengusulkan pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) sebagai langkah strategis, mengingat Bali adalah ikon pariwisata dunia.
“Kami ingin Bali menjadi percontohan dalam pemanfaatan energi terbarukan, sehingga tidak lagi bergantung pada energi fosil,” ujar Fasha.
Syarif Fasha mengapresiasi minat investor seperti Medco yang ingin berinvestasi di sektor energi di Bali. Namun, ia mencatat kendala terkait aturan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN), yang mensyaratkan 40 persen produk lokal.
“Presiden Jokowi menginginkan TKDN 40 persen, tetapi ini sulit diimplementasikan di lapangan. Kami mengusulkan kelonggaran menjadi 20 persen, dengan tetap memperhatikan kepentingan produk dalam negeri,” jelasnya.
Dalam kunjungan tersebut, Komisi XII juga menyoroti kerja Panitia Kerja (Panja) yang telah dibentuk, seperti Panja Kelistrikan, Panja Lingkungan Hidup, dan Panja Minerba serta Migas. Langkah ini bertujuan untuk memastikan pengelolaan energi dan sumber daya alam yang lebih efisien.
“Jangan sampai kita seperti ayam mati di lumbung padi, memiliki potensi besar tetapi tidak mampu memanfaatkannya. Jika energi tidak dikelola dengan baik, kita bisa menghadapi kelaparan energi di masa depan,” pungkas Fasha.
Baca Juga: Lestari Moerdijat: Maksimalkan Kebijakan untuk Cegah Kekerasan di Sekolah
Sumber: dpr.go.id















