Pontianak, PR Politik – Nama Yulius Aho terus merangkak naik di panggung sosiopolitik regional seiring rekam jejak panjangnya yang mengawinkan ketajaman dunia usaha, aksi filantropi, hingga pelestarian tatanan adat. Di sirkuit korporasi, ia dikenal luas sebagai figur wiraswasta yang merangkak membangun karier dari bawah, sementara di lini politik dan keolahragaan, dirinya dipercaya menakhodai berbagai organisasi strategis guna mendongkrak kurva kemajuan Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar).
Baginya, draf kepemimpinan modern sama sekali tidak boleh diisolasi sekadar pada perebutan takhta jabatan kaku. Seorang pemimpin dituntut wajib hadir secara fisik di tengah kepungan jeritan kebutuhan masyarakat bawah, menyerap draf aspirasi, serta taktis mengeksekusi jalan keluar.
“Pemimpin itu harus sering turun ke lapangan. Harus menyerap semua aspirasi masyarakat,” tegasnya membedah draf prinsip kepemimpinannya, Senin (8/6).
Pria kelahiran 12 Maret 1979 ini mengantongi latar belakang akademik formal sebagai lulusan Fakultas Hukum Universitas Panca Bhakti Pontianak. Sebelum melompat ke panggung politik praktis, ia telah lebih dulu mengunci reputasi di dunia usaha nasional, khususnya pada sirkuit industri pertambangan makro.
“Background saya murni wiraswasta, baik di Kalbar, Kalteng, Kalsel hingga Jakarta,” tuturnya bernostalgia mengenai draf perjalanan bisnisnya.
Kini, selaku Direktur Utama PT Borneo Twindo Group, ia mengonversi profit perusahaan menjadi draf aksi sosial konkret, salah satunya lewat penyediaan armada ambulans gratis hibrida. Atas dedikasi kemanusiaan tersebut, Yulius resmi dianugerahi penghargaan bergengsi Kinerja Award 2026 sebagai Pelopor Jasa Layanan Kesehatan Ambulans Gratis untuk Masyarakat Kalimantan Barat.
“Ambulans gratis memastikan masyarakat, terutama yang kurang mampu, memiliki akses setara terhadap layanan kesehatan, sehingga biaya bukan lagi penghalang utama untuk menyelamatkan nyawa,” urai mantan atlet Tarung Derajat tersebut.
Di luar sirkuit bisnis, ia terpantau aktif membina sektor olahraga sebagai Ketua Komisi Tinju Indonesia (KTI) Kalbar. Ia juga mengakar kuat sebagai tokoh sentral Dayak yang menduduki barisan posisi strategis, di antaranya:
-
Ketua Dewan Pembina dan Penasehat Majelis Hukum Adat Dayak Nasional
-
Penasehat Organisasi Mangkok Merah
-
Penasehat Pemuda Dayak
-
Bendahara Umum Ikatan Cendekiawan Dayak Nasional (ICDN)
Bermodalkan draf modalitas sosial, jaringan adat, dan logistik yang kokoh, ia akhirnya memilih sirkuit politik sebagai ruang pengabdian horizontal yang lebih masif. Amanah berat sebagai Ketua DPW Partai Perindo Kalbar dieksekusinya dengan mengusung draf visi partai inklusif yang ramah terhadap basis massa akar rumput.
“Perindo siap menampung siapa saja yang memiliki potensi dan kemauan untuk bergabung,” cetusnya membuka karpet merah bagi para tokoh potensial daerah.
Di bawah kendali taktisnya, mesin politik Perindo Kalbar gencar memperketat sirkuit konsolidasi hingga ke tingkat ranting tapak. Menyongsong kontestasi Pemilu 2029, ia melayangkan draf optimisme tinggi bahwa parpol yang dipimpinnya akan bertransformasi menjadi dinamo politik utama yang wajib diperhitungkan di bumi Khatulistiwa.
“Kita targetkan Perindo menjadi partai pemenang di Kalbar. Semua kursi DPRD kota, kabupaten dan provinsi harus terisi penuh,” pungkasnya mengunci draf target elektoralnya tanpa ragu.
sumber : Perindo















