Surabaya, PR Politik – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengajak para lulusan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya untuk mengambil peran sebagai motor penggerak inovasi pertanian modern. Hal ini ditegaskannya guna menjawab ancaman krisis pangan, energi, dan air yang kini menjadi tantangan global.
Dalam orasi ilmiahnya pada prosesi wisuda ITS, Minggu (19/4), Mentan Amran menekankan bahwa kedaulatan Indonesia bergantung pada kemandirian di tiga sektor krusial tersebut.
“Kalau pangan, energi, dan air kita mandiri, tidak ada negara yang berani mengganggu Indonesia. Karena tiga hal ini adalah krisis global, dan solusinya ada di Indonesia,” ujarnya di hadapan ribuan wisudawan.
Ia memaparkan capaian signifikan di sektor pangan, di mana stok nasional kini mencapai 4,9 juta ton, meningkat pesat dari periode sebelumnya. Namun, fokus pemerintah kini merambah pada transisi energi melalui biofuel berbasis minyak sawit (CPO).
Amran menjanjikan terobosan besar dalam kemandirian energi nasional yang akan dimulai dalam waktu dekat.
“Dulu kita impor 5 juta ton solar. Insya Allah 1 Juli 2026 kita stop impor dan beralih ke biofuel dari produksi dalam negeri,” tegasnya.
Pemerintah juga tengah mengakselerasi pengembangan bioetanol (E20) yang bersumber dari komoditas lokal seperti tebu, jagung, dan singkong untuk memperkuat ketahanan energi.
Kementerian Pertanian memberikan apresiasi khusus terhadap keandalan ITS dalam menciptakan teknologi aplikatif. Salah satu produk yang mencuri perhatian adalah traktor listrik buatan kampus pahlawan tersebut yang dinilai jauh lebih efisien dibandingkan traktor konvensional.
“Harganya separuh dari yang biasa, efisien, dan tidak menggunakan solar, tetapi listrik. Ini sangat hemat dan tidak tergantung bahan bakar,” jelas Amran. Ia menambahkan bahwa Kementan telah memesan 10 unit traktor tersebut untuk tahap uji coba lapangan.
Selain mekanisasi, pemerintah juga menggandeng PTPN IV untuk mengembangkan bensin sawit (bio-gasoline) skala kecil sebagai proyek percontohan energi masa depan Indonesia.
Rektor ITS, Bambang Pramujati, menyatakan kesiapannya dalam mendukung visi kemandirian nasional tersebut. Pada wisuda kali ini, ITS melepas 1.710 wisudawan yang telah dibekali kompetensi berbasis industri melalui kurikulum yang adaptif.
“Penelitian tidak boleh berhenti di perpustakaan, tetapi harus menjadi solusi nyata bagi masyarakat,” ungkap Bambang. Ia menegaskan bahwa kolaborasi dengan Kementan merupakan langkah strategis agar inovasi kampus benar-benar menjawab kebutuhan petani di lapangan.
Menutup arahannya, Mentan Amran menekankan bahwa kunci keberhasilan Indonesia adalah kolaborasi antara akademisi dan pemerintah. “Tinggal etanol yang kita percepat, dan solusinya ada di ITS. Ayo kita kolaborasi, kerja untuk Merah Putih,” pungkasnya.
sumber : Kementan RI















