Jakarta, PR Politik (26/12) – Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Anis Matta, yang juga Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, hadir sebagai pembicara kunci pada diskusi Refleksi Akhir Tahun Dunia Islam 2024. Diskusi ini merupakan hasil kerja sama antara Komisi Hubungan Luar Negeri & Kerjasama Internasional (HLNKI) dengan Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Acara yang digelar di aula Buya Hamka Gedung MUI, Jalan Proklamasi 51, Menteng, Jakarta Pusat, mengangkat tema ‘Perkembangan Situasi di Dunia Islam dan Tantangan serta Peluang Diplomasi Wasatiyah dan Dakwah Global’. Dalam kesempatan tersebut, Anis Matta menyoroti perkembangan geopolitik dan geoekonomi dunia yang saat ini mengalami perubahan, penuh ketidakpastian, serta diwarnai oleh ketegangan, peperangan, dan persaingan ketat antarnegara besar.
“Isu ekonomi global tidak dapat dipisahkan dari dinamika geopolitik karena stabilitas dan perdamaian adalah kunci untuk mengatasi kemiskinan dan kelaparan,” kata Anis Matta dalam keterangannya.
Ia menekankan bahwa setiap keputusan pemerintah harus mempertimbangkan dinamika isu geopolitik yang penuh ketidakpastian. “Jadi setiap keputusan nasional harus mempertimbangkan isu geopolitik global. Misalnya, jika Indonesia menargetkan pertumbuhan 8 persen, maka diperlukan mitra strategis untuk pembangunan,” ujarnya.
Anis Matta juga menyatakan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah upaya ‘bertahan hidup’ suatu negara, termasuk Indonesia. “Tantangan terbesar kita sekarang adalah bertahan hidup. Dan, ancaman negara gagal juga berlaku bagi Indonesia jika kita tidak berhati-hati,” ungkapnya.
Baca Juga: Kurniasih Mufidayati Tindaklanjuti Aduan Pekerja Migran Indonesia di Jepang Terkait Pajak
Ia menilai premis ini akan menjadi dasar kebijakan, baik dalam politik luar negeri maupun dalam negeri yang akan dikeluarkan pemerintah. Anis Matta menegaskan bahwa Indonesia, sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, memiliki kredensial untuk menyuarakan aspirasi umat Islam di seluruh dunia.
Secara geografis, Indonesia berada di kawasan Asia-Pasifik dan di tengah jalur maritim dunia, menjadikannya sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar. “Artinya, umat Islam tersebar secara geografis hingga ke nusantara, menjadikan Indonesia sebagai identitas dan peradaban umat Islam,” katanya.
Peran Indonesia di tingkat global, menurut Anis Matta, sudah dimulai dalam The Global South, di mana melalui Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung, Indonesia telah menjadi pelopor kemerdekaan negara-negara terjajah. Setelah itu, Indonesia menjadi pemimpin Gerakan Nonblok (GNB), organisasi internasional yang terdiri dari lebih dari 100 negara yang tidak beraliansi dengan kekuatan besar manapun.

GNB ini memperkuat kerja sama negara selatan-selatan (South-South Cooperation) yang berlandaskan prinsip kesetaraan, solidaritas, dan saling menguntungkan. Anis Matta berharap MUI sebagai organisasi besar yang berperan penting dalam membangun kehidupan beragama di Indonesia dapat menjadi garda terdepan dalam membangun masyarakat Islam yang harmonis, beradab, dan berkeadilan.
“MUI juga terus berupaya meningkatkan peranannya dalam membangun masyarakat Islam yang harmonis, beradab, dan berkeadilan. Semoga MUI terus menjadi pelita terang penuntun jalan umat,” pungkas Anis Matta.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal (Sekjen) MUI Buya Amirsyah Tambunan menyatakan keprihatinan mendalam terhadap perkembangan situasi di Palestina. “MUI mendukung sikap Pemerintah yang terus membela dan memperjuangkan kemerdekaan bangsa Palestina,” ujarnya.
Baca Juga: Abdullah Dukung KPK Usut Dugaan Korupsi dalam Program Pendidikan Dokter Spesialis
MUI juga mendorong agar Indonesia terus melakukan peran diplomatik global untuk menciptakan kemaslahatan bagi dunia Islam. “Usaha-usaha diplomatik global dirasa sangat perlu, dalam rangka menghentikan segala bentuk penjajahan dan mewujudkan perdamaian dunia serta berdirinya Negara Palestina merdeka,” katanya.
MUI berharap agar Indonesia dapat memperkuat peran Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), melindungi masyarakat Indonesia dari pengaruh Zionisme Israel, serta memperkuat dukungan dan bantuan kemanusiaan kepada bangsa Palestina. “MUI meminta masyarakat agar jangan pernah berhenti menyuarakan keadilan bagi Palestina. Salah satu langkah strategis yang dapat diambil adalah dengan terus menggalang persatuan dan kesatuan umat,” tutup Sekjen MUI ini.
Sumber: partaigelora.id















