IKI April 2026 Tetap Ekspansi, Kemenperin Tegaskan Industri Manufaktur Indonesia Jauh dari Deindustrialisasi

Jakarta, PR Politik – Sektor industri pengolahan nasional kembali menunjukkan resiliensi yang kuat di tengah tekanan geopolitik global. Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada April 2026 tercatat berada di level 51,75, menandakan industri tanah air masih berada dalam zona ekspansi meskipun mengalami perlambatan tipis sebesar 0,11 poin dari bulan sebelumnya.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Arief, menjelaskan bahwa gejolak krisis energi global memang memberikan dampak pada beberapa subsektor, namun secara umum variabel pembentuk IKI seperti pesanan, produksi, dan persediaan tetap tumbuh positif.

“Dampak krisis energi akibat gejolak geopolitik saat ini sudah sama-sama kita ketahui, yakni memengaruhi sejumlah subsektor tertentu, seperti industri kimia dan sektor industri hilir lainnya, termasuk tekstil,” ujarnya dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (29/4).

Menariknya, di tengah pelemahan permintaan ekspor, pasar domestik justru mengalami penguatan. IKI yang berorientasi domestik meningkat menjadi 50,90, membuktikan bahwa konsumsi dalam negeri menjadi bantalan yang kokoh bagi industri manufaktur.

Ia mengimbau para pelaku usaha untuk jeli memanfaatkan celah pasar internasional pada subsektor yang justru sedang naik daun, seperti garmen, farmasi, peralatan listrik, hingga industri komputer dan barang elektronik. Di sisi lain, Kemenperin menyoroti kontradiksi antara industri tekstil yang terkontraksi akibat bahan baku petrokimia dengan industri pakaian jadi yang justru tetap ekspansif.

“Perlambatan yang terjadi ini masih dalam batas wajar dan merupakan fase penyesuaian industri. Di sisi lain, terjadi peningkatan pada variabel persediaan, yang juga menunjukkan adanya penyesuaian stok oleh pelaku industri dalam merespons kondisi pasar,” ungkapnya.

Kemenperin memberikan klarifikasi tegas terkait isu deindustrialisasi dini yang kerap dilontarkan pengamat. Febri menekankan adanya perubahan konsep, definisi, dan metodologi perhitungan PDB oleh BPS sejak tahun 2010 yang membuat data kontribusi industri sebelum dan sesudah tahun 2009 tidak dapat diperbandingkan secara langsung (apple-to-apple).

Baca Juga:  Modernisasi Pengamanan Negara, Kemhan Sosialisasikan Aplikasi Security Clearance Berbasis Digital

Jika merujuk pada periode yang sama, yakni kuartal II-2022 hingga kuartal IV-2025, kontribusi industri pengolahan terhadap PDB nasional justru menunjukkan tren positif. Hal ini didorong oleh efektivitas kebijakan hilirisasi industri dan kuatnya konsumsi domestik.

Data menunjukkan bahwa sebanyak 16 dari 23 subsektor industri masih mengalami ekspansi, menyumbang hingga 78,9% terhadap PDB industri pengolahan nonmigas. Keyakinan pelaku usaha untuk enam bulan ke depan pun tetap tinggi di angka 70,1%.

Fakta bahwa tidak terjadi pergeseran (shifting) tenaga kerja sebanyak 21,6 juta orang dari sektor manufaktur ke sektor jasa menjadi bukti kuat stabilitas industri saat ini.

“Dari tren kenaikan kontribusi PDB Industri Pengolahan terhadap PDB Nasional dan tidak terjadinya shifting tenaga kerja industri pengolahan ke sektor lain, kami menegaskan bahwa manufaktur Indonesia tidak mengalami gejala deindustrialisasi dini apalagi deindustrialisasi. Serta, tren positif kontribusi industri pengolahan terhadap perekonomian nasional ini terjadi pada masa kepemimpinan Menteri Perindustrian Bapak Agus Gumiwang Kartasasmita,” pungkasnya.

sumber : Kemenperin RI

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Infografis Terbaru