Wujudkan Kedaulatan Energi, Presiden Prabowo Resmikan Groundbreaking Proyek Hilirisasi Tahap II di Cilacap

Cilacap, PR Politik – Presiden RI Prabowo Subianto secara resmi meluncurkan groundbreaking tahap II proyek strategis hilirisasi nasional di Kilang Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4). Langkah ini merupakan tindak lanjut konkret dari studi kelayakan (feasibility study) yang disusun oleh Satgas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional di bawah komando Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.

Proyek-proyek tersebut kini memasuki fase implementasi nyata setelah proses transisi dari tahap kajian Satgas ke tahap eksekusi investasi oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).

“FS yang disusun Satgas menjadi landasan penting agar setiap proyek hilirisasi berjalan dengan hitungan yang matang, tepat sasaran, dan memberikan manfaat maksimal bagi negara serta rakyat Indonesia,” ujar Menteri ESDM Bahlil Lahadalia usai acara peresmian.

Proyek hilirisasi tahap I dan II mencakup spektrum luas di sektor energi dan mineral. Pada tahap pertama yang telah dimulai sejak Februari 2026, fokus diarahkan pada smelter alumina di Mempawah serta produksi bioavtur dan bioetanol.

Pada tahap kedua ini, proyek diperluas mencakup pembangunan kilang gasoline di Cilacap dan Dumai yang ditargetkan mampu memangkas impor bensin nasional sebesar 10 persen. Selain itu, proyek Dimethyl Ether (DME) di Tanjung Enim menjadi senjata strategis pemerintah untuk mensubstitusi impor LPG yang saat ini masih mendominasi 80 persen kebutuhan nasional.

Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh lagi hanya menjadi eksportir bahan mentah. “Kita tidak boleh lagi hanya menjadi pengekspor bahan mentah. Hilirisasi harus menjadi alat untuk memperkuat kedaulatan energi, memperbesar penerimaan negara, membuka lapangan kerja, dan memastikan kekayaan alam Indonesia benar-benar dinikmati oleh rakyat Indonesia,” tegasnya.

Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menekankan pentingnya penguasaan teknologi dalam mengolah sumber daya alam sendiri. Beliau menginstruksikan Danantara dan tim hilirisasi untuk selalu mengedepankan efisiensi dan inovasi terbaru.

Baca Juga:  Riset Prospera Ungkap Kemajuan Reformasi Birokrasi Indonesia, Dorong Peningkatan Kualitas Layanan Publik

“Kita tidak mau sekadar jual bahan baku. Kita mau olah turunan-turunannya di Indonesia supaya nilai tambahnya dinikmati oleh rakyat Indonesia. Jadi, saudara-saudara tim hilirisasi dan Danantara, kaji terus teknologi ya. Kaji terus teknologi. Lihat matematis. Matematis, matematis,” imbaunya.

CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menyatakan kesiapannya dalam mengawal aspek finansial dan operasional proyek hilirisasi ini. Koordinasi intensif dengan Kementerian ESDM terus dilakukan guna memastikan setiap proyek berjalan sesuai garis waktu yang ditentukan.

“Kami berkoordinasi selalu dengan Pak Bahlil sebagai Menteri ESDM dan Ketua Satgas dalam rangka melihat proyek-proyek hilirisasi ini yang memang segera kita laksanakan dalam rangka penciptaaan nilai tambah, penciptaan industri dan penciptaan pekerjaan,” jelasnya.

Berikut adalah beberapa rincian proyek strategis yang masuk dalam fase groundbreaking:

  • Sektor Mineral: Manufaktur baja nirkarat (Morowali), hilirisasi tembaga dan emas (Gresik), serta aspal Buton.

  • Sektor Energi: Kilang gasoline (Cilacap & Dumai), tangki BBM (Palaran, Biak, Maumere), dan Bioavtur (used cooking oil).

  • Sektor Sawit: Pengolahan minyak sawit menjadi oleofood dan biodiesel di Sei Mangkei.

Melalui sinergi antara kajian teknis Satgas dan kekuatan investasi Danantara, pemerintah optimis transformasi ekonomi berbasis industrialisasi ini akan memperkokoh kedaulatan energi nasional menuju Indonesia yang mandiri dan sejahtera.

sumber : ESDM RI

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Infografis Terbaru