Jakarta, PR Politik — Dalam Kongres Partai Solidaritas Indonesia (PSI) 2025 yang digelar di Solo, Jawa Tengah. Mantan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo secara eksplisit menyatakan kesiapannya untuk mendukung penuh dan bekerja keras membesarkan PSI. Pernyataan ini sekaligus mengonfirmasi relasi politik antara Jokowi dan partai yang kini dipimpin oleh putra bungsunya, Kaesang Pangarep.
Pakar Ilmu Komunikasi Politik UIN Jakarta, Prof. Gun Gun Heryanto, menyebut dukungan Jokowi terhadap PSI bukan sekadar simbolik, melainkan bagian dari simbiosis mutualisme antara figur kuat dan partai muda yang tengah membangun daya tawar elektoral.
“Pernyataan ‘full power’ dari Pak Jokowi menegaskan secara de facto bahwa beliau telah menjadi bagian dari PSI,” ujar Gun Gun dalam wawancara bersama tvOne, Minggu (20/7). Menurutnya, keterlibatan Jokowi akan berdampak pada tiga hal utama: penguatan reputasi PSI, upaya damage control (pengendalian kerusakan), dan strategi menjelang Pemilu 2029.
“Pertaruhannya adalah apakah keterlibatan Pak Jokowi dan keluarganya bisa memuluskan PSI lolos ke parlemen. Ini tantangan bukan hanya bagi PSI, tapi juga bagi eksistensi politik Jokowi ke depan,” ujar Gun Gun.
Di sisi lain, pernyataan pendiri PSI, Jeffrie Geovanie, yang menyebut PSI bisa “mati” tanpa trah Jokowi, menurutnya menjadi penanda bahwa PSI kini mulai mengadopsi pendekatan politik berbasis figur, sebuah langkah besar dari citra awal partai tersebut yang tidak bertumpu pada figur atau ketokohan.
“Ini bentuk reorientasi strategi PSI. Masuknya Jokowi menjadi simbol bahwa PSI kini bergantung pada figur, sebagaimana partai-partai besar lain di Indonesia,” jelasnya.
Menanggapi keyakinan Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep bahwa partainya akan menjadi besar di 2029, Jokowi justru mengatakan untuk tidak terburu-buru dan menyebut target realistis adalah 2034. Gun-Gun menilai pernyataan Jokowi ini mencerminkan kehati-hatian, mengingat PSI sebelumnya gagal menembus ambang batas parlemen meski Kaesang sudah menjabat ketua umum.
Soal simbol baru partai, dari mawar merah ke gajah, Gun-Gun menyebut langkah ini sebagai bagian dari strategi rebranding PSI. Ia juga melihat penggunaan simbol gajah sebagai bentuk symbolic convergence dan sekaligus psychological warfare terhadap kekuatan politik lain.
“Gajah dilihat sebagai simbol kebijaksanaan dan kekuatan. Ini upaya membakar semangat dan memperkuat citra institusional partai,” ujarnya.
Terakhir, Gun-Gun menekankan bahwa jika PSI kembali gagal di 2029, bukan hanya PSI yang dirugikan, tapi juga reputasi politik Jokowi.
“Kalau PSI gagal, itu akan dibaca sebagai kegagalan Jokowi dalam membangun kendaraan politik barunya. Sebaliknya, jika berhasil, maka Jokowi akan tercatat sebagai tokoh yang mampu menghidupkan partai dari nol menjadi kekuatan nasional,” pungkasnya.















