Mataram, PR Politik – Anggota DPR RI Fraksi PKS, Saadiah Uluputty, menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya Juliana Marins, pendaki asal Brasil yang mengalami kecelakaan tragis di Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat. Peristiwa ini tidak hanya mengguncang publik nasional, tetapi juga menarik perhatian internasional karena dugaan keterlambatan dalam proses evakuasi.
“Peristiwa ini sangat menyedihkan. Bukan hanya karena korban adalah wisatawan asing yang ingin menikmati alam Indonesia, tapi juga karena adanya dugaan keterlambatan evakuasi yang fatal,” ujar Saadiah dalam keterangannya.
Wakil rakyat dari Dapil Maluku itu menyoroti laporan yang menyebutkan bahwa korban sempat mengirim sinyal permintaan bantuan pada 21 Juni 2025, namun jenazah baru berhasil dievakuasi pada 24 Juni 2025.
“Tiga hari dalam kondisi darurat adalah waktu yang terlalu lama. Ini harus menjadi bahan evaluasi menyeluruh,” tegasnya.
Saadiah mengakui bahwa medan ekstrem dan cuaca buruk memang menjadi tantangan utama dalam proses evakuasi. Namun menurutnya, hal tersebut seharusnya bisa diantisipasi dengan teknologi dan peningkatan kapasitas tim penyelamat. Ia juga menilai lemahnya koordinasi antar-lembaga sebagai persoalan serius yang tak bisa diabaikan.
“Kita menghargai kerja keras tim SAR, namun kita juga perlu jujur mengevaluasi sistem yang belum berjalan optimal. Ketika nyawa manusia dipertaruhkan, respons harus cepat, terintegrasi, dan berbasis data real-time,” ungkap anggota Komisi V DPR RI yang baru bergabung tersebut.
Sebagai langkah konkret, Saadiah mendorong Basarnas untuk segera melakukan audit menyeluruh terhadap prosedur operasional tetap (SOP) dalam penanganan kecelakaan di kawasan taman nasional dan pegunungan. Ia menekankan pentingnya pelatihan rutin, simulasi evakuasi bersama komunitas lokal, serta pengadaan peralatan canggih.
“Teknologi harus menjadi garda terdepan penyelamatan. Jangan sampai medan dan kabut menjadi alasan berulang di masa depan,” ujarnya.
Saadiah juga mengusulkan agar semua pendaki, khususnya wisatawan mancanegara, diwajibkan membawa perangkat pelacak GPS atau emergency beacon yang langsung terhubung dengan pusat SAR nasional. Menurutnya, sistem pelacakan terintegrasi akan sangat meningkatkan kecepatan dan efektivitas evakuasi.
“Ini soal keselamatan jiwa. Jangan sampai tragedi ini berulang,” tutup Saadiah Uluputty.
Sumber: fraksi.pks.id















