Jakarta, PR Politik (16/11) – Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PKS, Riyono, menyoroti kondisi sulit yang dihadapi peternak susu lokal di Indonesia. Maraknya isu pembuangan susu hasil peternakan menjadi cermin tantangan berat yang dialami para peternak, mulai dari tingginya harga pakan hingga persaingan ketat di pasar.
“Peternak lokal kita menghadapi berbagai tantangan besar. Mereka perlu dukungan konkret agar dapat bertahan dan bersaing, khususnya dalam menghasilkan susu berkualitas,” ujar Riyono, Jumat (15/11).
Riyono menekankan pentingnya peran pemerintah dalam melindungi peternak susu lokal sebagai bagian dari upaya memperkuat ekonomi pedesaan. Menurutnya, kebijakan yang mendukung penyerapkan produk susu domestik sangat mendesak untuk diwujudkan.
“Salah satu langkah strategis adalah menjadikan susu lokal sebagai bagian dari program makan bergizi gratis yang dicanangkan pemerintah. Ini tidak hanya membantu peternak, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada impor dan memperkuat ekonomi nasional,” jelasnya.
Riyono, yang juga legislator asal Jawa Timur, menambahkan bahwa keberpihakan terhadap peternak lokal tidak hanya soal kesejahteraan individu, tetapi juga simbol hadirnya negara dalam melindungi sektor ekonomi pedesaan.
Riyono berharap program makan bergizi yang diterapkan di sekolah-sekolah dapat memanfaatkan lebih banyak produk susu lokal. Kebijakan ini, menurutnya, menjadi solusi untuk mendukung peternak sekaligus memenuhi kebutuhan gizi masyarakat secara lebih merata.
“Dengan melibatkan produk susu lokal, kita tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga membangun kesejahteraan masyarakat dari desa hingga kota,” ujarnya.
Berdasarkan data Kementerian Pertanian, kebutuhan susu industri Indonesia pada 2023 mencapai 4,3 juta hingga 4,4 juta ton. Namun, produksi susu lokal hanya mencapai 837.223 ton atau kurang dari 20 persen kebutuhan nasional.
Riyono menyoroti produktivitas susu sapi di Indonesia yang masih tertinggal jauh dibanding negara lain. Saat ini, produksi susu sapi lokal hanya berkisar 8–12 liter per ekor per hari, sedangkan negara seperti Selandia Baru dan Australia mampu menghasilkan hingga 25 liter per ekor per hari.
Riyono mengajak semua pihak, termasuk pemerintah, untuk memperkuat dukungan kepada peternak lokal. Ia menegaskan, kebijakan yang berpihak kepada peternak tidak hanya meningkatkan daya saing mereka, tetapi juga menjadi bagian penting dari ketahanan ekonomi nasional.
“Kita harus memastikan hasil kerja keras peternak lokal mendapatkan tempat yang layak di pasar domestik. Ini adalah langkah nyata untuk membangun kemandirian ekonomi bangsa,” pungkas Riyono.
Baca Juga: Aus Hidayat Nur Soroti Kerawanan Politik Uang dan Netralitas ASN dalam Pilkada Jabar dan Depok
Sumber: fraksi.pks.id















