Jakarta, PR Politik – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan bahwa penguatan struktur industri kimia nasional terus diakselerasi melalui peningkatan kapasitas produksi bahan baku dan perluasan investasi strategis, salah satunya adalah peresmian pabrik New Ethylene Project milik PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) di Cilegon, Banten.
Pembangunan fasilitas baru ini tidak hanya menandai realisasi komitmen investasi jangka panjang dari Lotte Group, tetapi juga menjadi bukti kuatnya kepercayaan investor global terhadap iklim industri di Indonesia, khususnya pada sektor kimia dasar.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan bahwa realisasi investasi tersebut menunjukkan posisi Indonesia sebagai destinasi utama bagi penanaman modal asing.
“Pembangunan pabrik ini menunjukkan Indonesia masih menjadi destinasi utama investasi global di sektor manufaktur, terutama industri kimia dasar,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangannya setelah acara peresmian pabrik PT LCI oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto di Cilegon, Kamis (6/11).
Menperin menjelaskan, pabrik baru LCI diharapkan semakin memperkuat sektor petrokimia hulu, yang merupakan tulang punggung bagi berbagai industri hilir seperti farmasi, makanan dan minuman, elektronik, hingga otomotif.
“Industri kimia memiliki peran strategis sebagai penyedia bahan baku esensial bagi berbagai sektor industri. Karena itu, penguatan kapasitas produksinya menjadi prioritas nasional,” ungkapnya.
Menperin mengungkapkan bahwa kebutuhan bahan kimia nasional pada tahun 2024 mencapai lebih dari 53 juta ton per tahun, namun kapasitas produksi domestik belum memadai. Hal ini menyebabkan impor petrokimia masih mendekati USD11 miliar per tahun dan terus meningkat.
“Karena itu, pembangunan pabrik Lotte Chemical Indonesia New Ethylene (LINE) menjadi langkah strategis mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan kimia dasar,” ujar Menperin.
Dengan nilai investasi hampir Rp60 triliun, proyek LINE menjadi salah satu investasi terbesar di Indonesia dan menghadirkan fasilitas Nafta Cracker kedua di Tanah Air setelah lebih dari 30 tahun. Kompleks seluas 110 hektare ini memiliki kapasitas produksi naphtha cracker sebesar 3 juta ton per tahun, menghasilkan produk kunci seperti etilena (1 juta ton), propilena (520 ribu ton), dan polipropilena (350 ribu ton) setiap tahun. Fasilitas ini telah terintegrasi dengan pabrik polietilena (PE) berkapasitas 450 ribu ton yang sudah beroperasi sebelumnya.
Sektor manufaktur, termasuk industri kimia dasar, disebut memiliki peran vital dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional. Kinerja positif ini tercermin dari realisasi investasi manufaktur yang mencapai Rp366,6 triliun pada semester I tahun 2025, menyumbang 38,9% dari total investasi nasional.
Selain memberikan multiplier effect, pabrik LCI juga diproyeksikan membuka peluang tumbuhnya industri turunan baru.
“Investasi ini tidak hanya memperkuat rantai pasok nasional, tetapi juga meningkatkan daya saing industri kimia Indonesia di pasar global,” lanjut Menperin.
Di tempat yang sama, Chairman LOTTE Group Shin Dong-bin menekankan pentingnya proyek ini sebagai simbol kemitraan antara Korea Selatan dan Indonesia.
“Proyek ini merupakan salah satu investasi terbesar perusahaan Korea di Indonesia, melambangkan kemitraan yang kuat antara kedua negara, serta akan menjadi fondasi penting untuk memperkuat industri petrokimia Indonesia dan daya saing nasionalnya,” ungkapnya.
LCI memperkirakan kompleks ini mampu menciptakan nilai ekonomi sekitar USD2 miliar per tahun dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan.
sumber : Kemenperin RI















