Jakarta, PR Politik – Mengemukanya wacana pengenalan saham dan coding bagi siswa usia SD ditanggapi oleh Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PKS, Ledia Hanifa Amaliah. Menurutnya, meskipun pengenalan saham dan coding bukanlah hal yang buruk, ada pendidikan mendasar yang harus difokuskan terlebih dahulu, yaitu kemampuan calistung (membaca, menulis, dan berhitung).
Ledia menekankan bahwa persoalan literasi baca tulis di Indonesia masih rendah, yang merupakan tantangan besar. “Padahal kemampuan baca tulis adalah tingkatan paling dasar dari sekian banyak literasi. Kemudian barulah kemampuan literasi numerik,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa peningkatan kemampuan calistung harus menjadi fokus perhatian dalam pendidikan level dasar dan menengah. “Kemampuan calistung ini merupakan keterampilan dasar yang nanti akan menjadi dasar bagi pendalaman ilmu yang berikutnya. Sayangnya, kita sampai saat ini bahkan belum punya standar ukuran berapa kosa kata bahasa Indonesia yang harus dimiliki oleh anak Indonesia pada usia-usia tertentu,” ungkapnya.
Ledia mengusulkan agar ada standar target jumlah kosa kata yang harus dimiliki siswa, sehingga dapat mendorong kemampuan literasi mereka. Dengan adanya standar ini, guru-guru juga dapat membuat program peningkatan literasi yang lebih mudah, terukur, dan menyenangkan bagi murid.
Selain itu, Ledia juga menyoroti pentingnya pendidikan budi pekerti. “Pada usia sekolah dasar dan menengah inilah waktu terbaik untuk menjadi peletak dasar kemampuan budi pekerti yang akan menjadi pengokoh pendidikan karakter,” katanya. Ia menekankan bahwa pembentukan karakter dan akhlak mulia harus dibiasakan sejak dini agar tidak ada kejutan perilaku di kemudian hari.
Ledia juga menambahkan bahwa penguatan jasmani harus menjadi fokus perhatian di jenjang pendidikan dasar dan menengah. “Kita perlu menyiapkan dengan sungguh-sungguh, bagaimana anak-anak kita pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, terutama di sekolah dasar, punya fisik yang baik, yang sehat, yang sesuai dengan standar tumbuh kembang,” terangnya. Ia menyarankan agar program makan bergizi gratis ditambah dengan rutinitas senam sebelum sekolah.
Ketiga hal mendasar ini, menurut Ledia, perlu dirangkai menjadi satu kesatuan program pendidikan yang terukur dan dievaluasi secara berkala. “Agar ada peningkatan kemampuan literasi baca tulis berhitung bagi siswa di Indonesia,” tambahnya. Ia juga mengingatkan bahwa skor PISA 2022 menempatkan Indonesia pada ranking 69 dunia dan ke-6 di ASEAN dalam kemampuan literasi bahasa, matematika, dan sains.
“Kalau soal calistung, pendidikan budi pekerti, dan kesehatan jasmani sudah dibuat program yang fokus, terukur, dan ter-evaluasi, nanti kalau mau ditambah soal pembelajaran coding, pasar modal, atau literasi finansial itu bisa saja, karena sudah mantab dulu dasar-dasarnya,” tutup Ledia.
Sumber: fraksi.pks.id















