Jakarta, PR Politik – Anggota Komisi VI DPR RI, Imas Aan Ubudiyah, mendesak pemerintah agar segera mengambil langkah konkret guna memperbaiki kondisi neraca perdagangan Indonesia yang mengalami penurunan signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
Imas menilai merosotnya neraca perdagangan menunjukkan lemahnya daya saing ekspor nasional serta tingginya ketergantungan terhadap barang impor, baik untuk konsumsi maupun bahan baku industri. Jika tidak segera ditangani, situasi ini dinilai berpotensi mengganggu stabilitas perekonomian nasional.
“Pemerintah harus segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan ekspor dan impor, serta memberikan insentif kepada sektor industri dalam negeri agar mampu meningkatkan nilai tambah produk ekspor,” tegas Imas di Jakarta, Kamis (5/6/2025).
Legislator dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu juga menekankan pentingnya penguatan diplomasi perdagangan sebagai upaya untuk memperluas pasar ekspor ke negara-negara non-tradisional. Selain itu, Imas mendorong optimalisasi seluruh perjanjian dagang yang telah disepakati dengan negara-negara mitra.
Ia pun menyoroti perlunya sinergi antara Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian dalam mempercepat pengembangan industri substitusi impor. Menurutnya, pelaku UMKM juga harus dilibatkan secara aktif agar mampu bersaing di pasar global.
“Kita tidak bisa terus bergantung pada komoditas mentah. Sudah saatnya Indonesia fokus pada hilirisasi dan produk manufaktur yang punya daya saing tinggi,” tambahnya.
Dengan langkah-langkah strategis seperti perbaikan struktur ekspor dan pengurangan ketergantungan terhadap barang impor, Imas berharap neraca perdagangan Indonesia bisa kembali mencatatkan surplus yang berkelanjutan, sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengakui bahwa penurunan tajam surplus neraca perdagangan Indonesia—yang tercatat sebagai yang terendah dalam lima tahun terakhir—dipengaruhi oleh kebijakan tarif dari Amerika Serikat (AS).
Kebijakan tersebut, menurut Budi, berdampak langsung terhadap penurunan nilai ekspor Indonesia secara bulanan. Meski demikian, ia mencatat bahwa secara tahunan (year-on-year/yoy), nilai ekspor Indonesia untuk periode Januari hingga April masih tumbuh sebesar 6,65%.
“Kita analisa yang pertama kemarin awal April masih libur Lebaran, jadi masih banyak libur, sehingga ekspor berkurang. Kedua, ini juga banyak terkait kebijakan Trump,” ujar Busan, sapaan akrabnya, kepada wartawan di Jakarta, Rabu (4/6/2025).
Sumber: fraksipkb.com















