Jakarta, PR Politik (21/12) – Anggota Komisi XI Fraksi PKB DPR RI, Hasanuddin Wahid, menyoroti kasus sindikat uang palsu yang beroperasi di kampus UIN Alauddin Makassar. Ia meminta Bank Indonesia (BI) dan pihak kepolisian untuk serius mengusut tuntas kasus yang menghebohkan ini.
Hasanuddin menegaskan bahwa kasus uang palsu yang diproduksi di lingkungan kampus harus menjadi perhatian serius semua pihak. “Kasus itu jelas mencoreng nama baik kampus. Para pelaku tampaknya ingin mengelabuhi semua orang, terutama aparat penegak hukum,” ujarnya, Jumat (20/12/2024).
Kasus ini tidak hanya terjadi di lingkungan kampus, tetapi juga melibatkan banyak pihak. Sejauh ini, sudah 17 orang yang diamankan, termasuk kepala perpustakaan kampus yang bergelar doktor, serta ASN Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar). Yang lebih mengejutkan, dua karyawan bank BUMN juga ikut diamankan.
“Ini bukan sembarang orang yang diamankan. Sindikat uang palsu itu melibatkan orang-orang yang berpengalaman di bidangnya,” beber legislator asal Daerah Pemilihan (Dapil) Malang Raya itu.
Hasanuddin menambahkan bahwa barang bukti yang disita polisi bernilai ratusan triliun rupiah. Mesin pencetak uang palsu yang digunakan juga didatangkan langsung dari China dengan nilai Rp 600 juta. Selain itu, terdapat surat berharga negara (SBN) dan sertifikat deposit Bank Indonesia (BI) yang total nilainya mencapai ratusan triliun rupiah. Salah satu barang bukti mencolok adalah satu lembar kertas fotokopi sertifikat deposit BI yang nilainya Rp 45 triliun, serta kertas SBN senilai Rp 700 triliun.
Baca Juga: Putri Zulkifli Hasan Buka Workshop “TerdePAN Wujudkan Kedaulatan Pangan” di Surabaya
Oleh karena itu, Hasanuddin meminta BI dan pihak kepolisian untuk serius mengusut tuntas sindikat uang palsu ini. Ia menekankan pentingnya melacak peredaran uang palsu agar dapat diamankan dan tidak menyebar lebih luas.
“Peredaran uang palsu bisa merugikan perekonomian negara, mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap uang dan sistem keuangan, serta menyebabkan kerugian finansial bagi individu dan bisnis,” jelasnya.
Hasanuddin juga meminta BI untuk lebih aktif dalam melakukan sosialisasi terkait uang palsu. Masyarakat perlu terus diedukasi tentang cara mendeteksi uang palsu, dan pengamanan dalam proses produksi serta peredaran uang harus ditingkatkan.
“Kerjasama antara bank, kepolisian, dan pihak berwenang terkait sangat penting dalam pengamanan proses produksi dan peredaran uang,” pungkasnya.
Sumber: fraksipkb.com















