Forum Bisnis Guangzhou Hasilkan Kesepakatan USD 800 Juta, Indonesia-Tiongkok Perkuat Sinergi Industri AI

Guangzhou, PR Politik – Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Guangzhou sukses menyelenggarakan “Indonesia-Southern China Business Forum on Industries of The Future” di Guangzhou, Tiongkok, Senin (13/4). Forum strategis ini berhasil membukukan kesepakatan nilai transaksi fantastis mencapai hampir USD 800 juta melalui penandatanganan sembilan dokumen kerja sama lintas sektor.

Bekerja sama dengan Asosiasi Promosi Perdagangan Indonesia-Guangdong (PPIG), acara bertajuk “Artificial Intelligence and Bilateral Investment for Industrial Transformation” ini dihadiri lebih dari 200 peserta. Mereka terdiri dari pengusaha Tiongkok, delegasi Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI), serta berbagai kamar dagang dari Provinsi Guangdong.

Konsul Jenderal RI di Guangzhou, Dr. Ben Perkasa Drajat, menegaskan bahwa wilayah Tiongkok Selatan, khususnya Provinsi Guangdong, merupakan pusat inovasi global yang menjadi mitra kunci bagi Indonesia dalam penguasaan teknologi masa depan.

“Tiongkok Selatan memiliki posisi penting sebagai mitra Indonesia dalam mewujudkan penguasaan teknologi bagi penguatan industri nasional sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045,” tegasnya.

Senada dengan hal tersebut, Deputy Chief of Mission (DCM) KBRI Beijing, Parulian Silalahi, memproyeksikan Tiongkok sebagai mitra utama dalam transformasi kesehatan, energi hijau, hingga ekonomi digital. Peluang kerja sama di sektor kecerdasan buatan (AI) dinilai sangat besar untuk mendukung infrastruktur nasional.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Arif Satria, dalam pidato kuncinya menjelaskan bahwa Indonesia tengah memasuki fase pembangunan baru yang menitikberatkan pada hilirisasi industri dan digitalisasi. Ia menyebut adanya sinergi alami antara kekayaan sumber daya Indonesia dengan kemajuan manufaktur Tiongkok Selatan.

BRIN menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi kemitraan ini melalui penyediaan infrastruktur penelitian dan talenta ilmiah guna mendukung penelitian bersama serta peningkatan skala inovasi antar kedua negara.

Baca Juga:  Kemensos Kucurkan Bansos Rp1,8 Triliun untuk Korban Banjir di Tiga Provinsi Sumatra

Wakil dari HKI menyoroti bahwa masa depan kawasan industri di Indonesia akan bertransformasi dari manufaktur konvensional menuju ekosistem teknologi yang lengkap, mencakup pusat data, Internet of Things (IoT), dan AI. Saat ini, lebih dari 170 kawasan industri di tanah air menyumbang sekitar 19% terhadap PDB nasional.

Sembilan kesepakatan kerja sama yang dicapai dalam forum ini mencakup sektor-sektor krusial, antara lain:

  • Energi baru dan waste-to-energy.

  • Alat medis pintar.

  • Manufaktur industri dan benang sintetis.

  • Pengembangan kawasan industri masa depan.

Tiongkok Selatan tetap memegang peranan vital sebagai pusat perdagangan dan investasi asing bagi Indonesia. Pada tahun 2025, nilai perdagangan dengan wilayah ini mencapai USD 48,7 miliar, atau menyumbang sepertiga dari total perdagangan RI-Tiongkok.

Forum bisnis tahunan ini menjadi semakin relevan mengingat pada tahun 2026, Provinsi Guangdong mulai menjalankan “Rencana Lima Tahun ke-15” dengan kebijakan “AI Plus”. Kebijakan ini berfokus pada pengembangan robotika dan komersialisasi AI skala besar, yang sangat selaras dengan visi Indonesia untuk memperkuat daya saing industri nasional di kancah global.

sumber : Kemlu RI

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Infografis Terbaru